Google News Initiative Training, Perang Bersama Melawan Hoaks

BIREUEN: Arus informasi yang semakin deras di era ini membuat tantangan jurnalis semakin berat. Insan pers kini dituntut sebagai garda terdepan sebagai penyaring informasi yang akurat, terverifikasi dan terpercaya.

Diera digital ini, jurnalis sebenarnya juga dimudahkan untuk memfaatkan tools online untuk mengecek kebenaran informasi hoaks atau bukan di dunia maya. Hal inilah yang dilakukan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerja sama dengan Google News Initiative dan Internews. Kolaborasi ini melatih jurnalis tools online dalam mengecek sebuah informasi terindikasi hoaks dan kemudian memverifikasinya.

Pelatihan ini diberikan kepada jurnalis di berbagai daerah di Indonesia. Untuk di Aceh training ini digelar di Bireuen bekerjasama dengan AJI Bireuen. Diikuti puluhan jurnalis dari Aceh Tengah, Bener Meriah, Lhokseumawe dan Bireuen, 7 hingga 8 September 2019, di Meuligoe Hotel, Bireuen.

Agoez Perdana, Editor In Chief KabarMedan.com dan Iwan Bahagia dari Kompas.com sebagai trainer dalam pelatihan ini. Keduanya adalah trainer tersertifikasi.

Para Jurnalis peserta Google News Initiative Training berfoto bersama trainer dan Ketua AJI Bireuen, Bahrul Walidin usai pelatihan, Minggu (8/9/2019) di Meuligoe Hotel, Bireuen.

Ketua AJI Bireuen, Bahrul Walidin mengatakan, pelatihan ini sangat bermanfaat bagi Jurnalis. Para peserta dikenalkan tentang isu-isu dunia digital dan memberikan pemahaman terhadap perilaku penggunaan internet yang sehat dan cara menangkal hoaks.

“Kita berharap dengan kegiatan ini para peserta akan lebih mendapatkan pemahaman seperti apa untuk mendekteksi informasi hoaks. Mengingat perkembangan arus informasi di dunia maya semakin gencar dan cepat menyebar yang terkadang menjadi santapan media mainstreem sehingga merugikan publik”ungkap Bahrul.

Melawan Hoaks dengan Tools Online

Agoez Perdana menyebutkan banyak tools online yang bisa digunakan untuk memverifikasi fakta dan rumor di dunia maya. Namun, banyak jurnalis yang belum familiar dan tidak memanfaatkan secara maksimal.

“Google mempunyai banyak tools yang bisa dipergunakan para jurnalis dalam verifikasi sebuah informasi. Selain yang dimiliki google, ada juga tools-tools milik pengembang lainnya”kata Agoez.

Dengan tools-tools yang ada, para jurnalis dapat mengecek keaslian sebuah foto, video maupun berita di yang beredar di jagat internet. Juga melacak lokasi dan waktu serta akun penyebar informasi dan rumor yang diragukan kebenarannya. Lewat cara-cara tertentu, akan diketahui hoaks atau bukan.

Sementara Iwan Bahagia menuturkan, banyak hoaks yang berseliweran di dunia maya yang terkadang tanpa disadari, malah dijadikan rujukan oleh jurnalis.

“Jurnalis harus mampu memilah dan memilih mana informasi hoaks dan fakta. Banyak cara untuk mengecek mana yang fakta dan hoaks, salah satu caranya dengan memanfaatkan berbagai tools yang diberikan dalam pelatihan kali ini” terang Iwan.

Workshop Hoax Busting and Digital Hygiene

Tak hanya untuk jurnalis, AJI Bireuen juga membekali puluhan mahasiswa dan dosen Universitas Al Muslim, Peusangan, Bireuen, dalam Workshop Hoax Busting and Digital Hygiene di kampus setempat. Jumat (6/9/2019).

Iwan Bahagia, trainer Google News Initiative Training ketika menjadi trainer dalam Workshop Hoax Busting and Digital Hygiene yang diikuti puluhan mahasiswa dan dosen Universitas Al Muslim, Peusangan, Bireuen, di kampus setempat. Jumat (6/9/2019).

Perkembangan teknologi yang tak bisa dibendung membuat penyebaran informasi semakin mudah. Kehadiran smartphone dan jaringan internet semakin cepat, publik kini dibanjiri informasi lewat media daring dan media sosial. Akibatnya, terkadang publik tak mampu membedakan fakta dan hoaks.

“Saat ini, berbagai jenis informasi hoax juga muncul dalan beragam bentuk, baik teks, foto maupun video yang bertujuan mengelabui publik. Biasanya sekedar lelucon, atau bahkan untuk kepentingan politik dan ekonomi,” sebut Bahrul dalam Workshop itu.

Melalui workshop ini, AJI Bireuen ingin ikut berkontribusi, guna melindungi masyarakat dari informasi hoaks untuk kalangan kampus. Untuk mencegah kejahatan dunia maya yang dapat menimpa siapa saja.

“Untuk itu kami mencoba mengedukasi mahasiswa, akademisi, dan jurnalis melalui pelatihan ini, diharapkan para peserta akan bisa mengambil peran dalam melawan berita bohong” ujar Bahrul. (Arsadi Laksamana)

.

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!