Geliat Tahun Pertama Shabela Memimpin Aceh Tengah

Sejak dilantik, Pemerintahan Shabela Abubakar bersama wakilnya Firdaus SKM hampir genap setahun memimpin Aceh Tengah, ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, geliat pembenahan usai transisi mulai terlihat.

Meski tak lepas dari kritik, di tahun pertama pemerintahan Shabela pelan-pelan bergeliat, salah satunya uji uji kompetensi bagi pejabat eselon II di Aceh Tengah, untuk eselon III dan IV sendiri telah dilakukan mutasi. Tak hanya mutasi, Soal Pendapatan Asli Daerah (PAD) terus digenjot Shabela, realisasi yang masih rendah, Kepada SKPK penghasil PAD ia menegaskan agar bekerja lebih keras dan lebih serius.

“Saya pernah menjabat kepala Dispenda dan pernah menjadi kepala Dinas Keuangan, jadi tahu betul masalahnya”kata Shabela ketika Rapat Pengelola PAD di Kantor Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD), saat itu Shabela mengingatkan keberhasilan SKPK mencapai target PAD juga bagian utama dari kinerja Kepala SKPK.

Sebagai daerah penghasil kopi terbaik, permintaan kopi specialty Gayo di dalam negeri terus meningkat. Peningkatan ini turut diiringi dengan harga jual yang tinggi. Shabela menekan promosi menjadi salah satu hal terpenting dan tak boleh berhenti, karena nantinya dapat mendongkrak angka penjualan. “Penduduk Aceh Tengah 80 persen petani, dari 80 persen ini 60 persen petani kopi, jadi prioritas kita tetap petani kopi, tanaman kopi sebagai primadona,” ujarnya.

“Selain promosi, saat ini kami sedang fokus berupaya meningkatkan produksi kopi rakyat dari 700kg/hektar menjadi 1200kg/hektar atau lebih,” sebut Shabela. Gayo sudah memiliki PGI, pihak lain tidak bisa seenaknya mengklaim kopi Gayo sebagai produk mereka, tantangannya tetap menjaga kualitas dan meningkatkan kuantitas hasil panen.

Untuk perluasan areal perkebunan rakyat, ia terus menjajaki rencana pinjam pakai kawasan hutan yang memang selama ini sudah digarap oleh masyarakat dan berdialog dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Dinas Kehutanan Aceh, agar ada solusi cepat dan tepat untuk membantu masyarakat. Selain itu, peremajaan kopi dengan membentuk Satgas pemangkasan kopi Gayo yang siap membantu petani, agar tanamannya produktif dan berkualitas.

Sendi-sendi kehidupan yang berlandaskan syariat islam juga terus diperkuat Shabela, Kepada pengurus masjid di Aceh Tengah, saat bertemu dengan Imam, Muazzin dan Khadam Mesjid dari 14 Kecamatan se Aceh Tengah, ia meminta pengurus masjid semakin baik membina Mesjid dengan baik sehingga membuat jamaah tertarik dan nyaman beribadah.

Diberbagai kesempatan ia mengajak masyarakat meramaikan majelis pengajian yang selama ini sudah berjalan di tengah masyarakat. Penyuluh agama juga akan ditambah. Para remaja masjid ia menyerukan untuk mengambil peran menjadi motor penggerak untuk meningkatkan nilai-nilai spiritual dalam masyarakat. Sesuai visi misi, pemerintahannya akan memberikan perhatian khusus terhadap pendalaman pemahaman kandungan isi Al-Qur`an sebagai bahagian penerapan syari`at Islam di Aceh Tengah.

Penguatan adat istiadat, mukim dikukuhkan melalui prosesi adat, sudah ada tiga mukim yang dilantik secara adat, yakni Mukim Kute Panang, Mukim Silih Nara dan terakhir mukim Bintang, salah satu tujuannya dengan pelantikan secara adat diharapkan dapat mengilhami tugas dan keteladanan mukim selama bertugas, adat gayo yang selaras yang sejalan dengan syariat Islam semakin kuat. Para mukim didorong tak hanya sekedar simbol namun benar-benar menjadi sosok teladan dalam semangat beragama, mampu memperkuat adat istiadat dan menjadi perekat hubungan sosial dalam masyarakat.

Sementara untuk dana desa, para camat Camat ia diperintahkan untuk menjadi pejabat terdepan dalam melakukan pengawasan dana desa. Tenaga ahli pendamping dana Desa agar bekerja sesuai ketentuan dan memberi laporan langsung kepada bupati. Semua pejabat dan tenaga ahli diminta bekerja saling bersinergi agar dana desa dapat secara nyata dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Sejumlah 295 bendahara Kampung se Kabupaten Aceh Tengah diberikan menggunakan aplikasi Sistem Keuangan Desa (Siskeudes).

Shabela menargetkan angka kemiskinan selama kepemimpinanya bisa turun hingga 8-9 persen. Berdasarkan data saat ini, angka kemiskinan 16,84 persen. Menurunkan angka kemiskinan dibawah 10 persen kata Shabela bukanlah perkara mudah, dibutuhkan peran semua pihak, Peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui sebuah proses salah satunya peningkatan jumlah lapangan pekerjaan di semua sektor, menurutnya ini tak lepas dari penguatan kapasitas dan skill bagi pemuda-pemudi melalui pelatihan dan pemberian modal.

Selain menyatakan komitmen dukungan penegrian Universitas Gajah putih, dan juga transformasi STAIN menjadi IAIN. Shabela bertekad untuk membangkitkan kembali jurusan pertanian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ada di Takengon, ia berjanji akan memberi dukungan dengan menampung produk dari SMK sehingga para siswa dan pengajar lebih giat untuk mengembangkan produk pertanian.

Shabela juga mengaku resah keberadaan rentenir yang selama ini menjadi momok bagi pedagang dan masyarakat salah satu solusinya adalah melalui koperasi pasar. Ketika menghadiri kepengurusan pedagang pasar ia menyatakan komitmen pemerintah daerah untuk meningkatkan organisasi pasar.

Situs sejarah ceruk mendale dan ujung karang juga menjadi perhatian pemerintahan Shabela-Firdaus, kedua situs ini diproyeksikan menjadi wisata edukasi yang dikelola secara serius. Pemugaran komplek bersejarah di kerajaan Reje Linge di desa Buntul Linge, Kecamatan Linge, direncanakan akan dilakukan peningkatan pembangunan di sejumlah komplek bersejarah di gayo seperti makam Muyang Gerpa, di desa Serule, kecamatan Bintang, Aceh Tengah. Pemugaran itu kata Shabela, dimaksudkan untuk melestarikan asal muasal sejarah moyang masyarakat Gayo.

Di bidang infrastruktur, saat bertemu dengan kepala Balai pelaksanaan jalan Nasional (BPJN) Aceh, Shabela menekan perlunya upaya peningkatan dan pemiliharaan jalan nasional di Aceh Tengah yang menjadi tanggung jawab BPJN, salah satunya ruas jalan yang dimulai dari genting Gerbang, Shabela meminta dibalik ruasnya menjadi Pamar-Genting agar masyarakat pamar dapat menikmati jalan aspal juga pembenahan jalan lingkar Danau Laut Tawar yang sebagiannya menjadi kewenangan BPJN Aceh.

Terdapat sejumlah jembatan yang diperbaiki, jembatan Kala Ili di kecamatan Linge, di kecamatan Pegasing, Jagong Jeget, termasuk memperbaiki trotoar dan drainase di kota takengon serta perbaikan saluran irigasi yang rusak di Selure.

Jelang setahun pemerintahan, diantara apa yang telah dilakukan Shabela, meski harus diakui masih banyak yang harus dikerjakan, di tahun pertama tanpa alokasi Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA), geliat perubahan usai transisi mulai terlihat dan rakyat akan terus menunggu terobosan-terobosan Shabela- Firdaus untuk menuju Aceh Tengah yang lebih baik.***

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!