Sebut Gayo Suku Tertua di Aceh, Tagore Abubakar; Kita Akan Daftarkan Ke PBB

  • Whatsapp
Ir. H. Tagore Abubakar Tokoh Masyarakat Gayo (foto-dok)

Kabargayo.com, Takengon; Mantan anggota DPR-RI dari fraksi PDI Perjuangan ini banyak tahu terkait lika-liku Aceh secara umum, apalagi terkait tentang suku Gayo yang sudah mendarah daging ditubuhnya. Anak Abubakar Bintang ini juga pernah menjumpai Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur`alam, cucu dari Laksamana Keumalahayati.

Menurut mantan Bupati Bener Meriah ini, almarhum cahaya Nur`alam adalah saksi terkait dengan suku Gayo empunya “Aceh”. “Tapi Alhamdulilah saya telah bertemu dan banyak yang disampaikan terkait dengan sejarah Aceh secara umum. Lain itu Tagore diberikan PIN (tanda Keluarga Besar Kesultanan Aceh) oleh Cahaya Nur`alam, saat Tagore berkunjung ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Cerita pilunya saat itu kenang Tagore, Cahaya Nur`alam ingin kembali ke Aceh tapi tidak mempunyai tempat tinggal. “Saya tawarkan waktu itu, bila beliau pulang akan saya carikan tempat dan menetap di Gayo, namun sayang Tuhan berkehendak lain, Nur`alam dipangil sang Khalik,” ujar Tagore mengenang perjumpaanya.

Tagore juga mengulai terkait dengan wilayah Aceh secara umum. Menurutnya Aceh itu adalah nama wilayah saat dulu (masanya-red). “Aceh itu wilayah bukan suku,” kata Ketua Dewan Adat Gayo itu.  Tagore menceritakan, saat Snouck Hurgronje dikirim belanda masuk ke Aceh, saat itu pula dirinya membuat tulisan politik adu domba. “Dan banyak juga tulisanya yang blunder dan telah dibaca oleh ribuan orang mungkin,” ucap Tagore.

Seperti kalimat Ibu kota Aceh. Saat itu namanya Kute reje, bukan Banda Aceh atau Kota Raja. Tulisan Snouck Hurgronje kala itu terus menjadi referensi semua kalangan, “Padahal itu politik adu domba,” katanya lagi.

Dari referensi dan pengetahuan Tagore, Snouck Hurgronje dikirim untuk menghancurkan suku Gayo. Karena saat itu perjuangan gerilya yang dilakukan oleh suku Gayo tidak mampu dikalahkan oleh senjata apapun.

Mulailah Snouck Hurgronje mempelajari agama, karena Gayo saat itu dengan kekuatan agamanya mampu menyebar dan beradap tasi dengan siapapun. “Suku Gayo sangat kuat dengan toleransi dan agamanya sehingga tidak gampang dimasuki oleh ajaran lain dan ajakan diluar nasionalisme,” lanjut Tagore bercerita sambil mengatakan dirinya punya data.

Kala itu Gayo terus berkembang setelah berhasil menghalau siapapun yang ingin merebut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) semua gagal dan pulang dengan tangan kosong. “Kekuatan suku Gayo sudah terbukti,” jelas Tagore.

Seanjutnya ada Sebayak Linge anak dari Joharsyah yang merantau ke Tanah Karo, berkembang jaman saat itu, bermunculan marga seperti saat ini. Tagore mengaku sudah pernah ke Karo dan berjumpa dengan turunan Sebayak Linge, bahkan memegang Tengkorak Muyang Sebayak Linge.

Seperti Datu Beru, yang juga anak dari Pota Marhum Mahkota Alam, yang cukup tangguh dalam peperangan melawan penjajah saat itu. Turunan Gayo dari Reje Linge hampir semua anti penjajahan dan nasionalisme.

Tagore juga berencana dan tengah berjalan akan mendaftarkan suku Gayo sebagai suku asli Aceh ke Dewan Perserikatan Bangsa-Bansa (PBB), seperti yang dilakukan suku Dayak.

“Dalam undang-undang, suku asli di satu negara itu harus dilindungi oleh negara dan PBB, karena kita suku tertua di Aceh dan Sumatera,” ucap Tagore mengakhiri sambil menambahkan, temuan Balai Arkeologi Medan, berdasarkan hasil dari analisis Radiokarbon di situs Loyang Koro mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah berkisar 7.400 tahun lalu hingga 5.040 tahun yang lalu. (putra gayo)

Kabargayo.com menerima kiriman artikel dari pembaca, kirim ke email: beritagayo@gmail.com dengan biodata diri.
  • Whatsapp

Related posts