Fenomena Hoax Setelah Datangnya Covid-19

  • Whatsapp

Oleh: Sawalina Fitri binti Burhanuddin*

Corona virus disease 19 atau covid-19 Sudah tidak asing lagi bagi kita mendengar tentang virus kecil yang tak kasat mata ini di telinga kita. Iya viral dalam waktu yang sangat singkat, menjadi topic pembicaraan dimana-mana, bukan hanya di dalam Negara tetapi di seluruh dunia. Kini dunia menangis dengan kedatangan covid 19, yang meresahkan hati seluruh umat manusia.

Read More

Hati bertanya bagaimana dia ada? dan kenapa dia datang?

Dari beberapa minggu kebelakang setelah covid 19 meresahkan hati manusia, sangat banyak sekali hoax yang beredar, berita fakta di depan mata tetapi berita palsu pun menyebar dimana-mana. Tidak dipungkiri lagi apabila ada suatu masalah yang datang akan banyak masalah lain yang akan muncul.

Perang pemikiran kini sudah dimulai, banyak yang beropini sedangkan fakta tidak digali, banyaknya hoax yang menyebar semakin meresahkan manusia, belum lama ini dikabarkan ada anak yang baru lahir bisa berbicara dan mengatakan bahwa manusia akan musnah setengahnya, untuk menangkal itu semua rebus telur dan makan di pagi hari sebelum jam 12:00. Hoax ya tentu saja berita ini adalah hoax, pemerintah pun tidak tinggal diam, mereka langsung menangkap orang yang menyebarkan berita ini.

Manusia jaman sekarang lebih takut dengan makhluk halus ketimbang dengan yang berwujud. Tidak diherankan karna halus tak berwujud tapi mematikan. Tak perlu resah, tak usah gelisah, jalani semua dengan lillah, in shaa Allah, Allah slalu menjaga kita.

Pada saat sekarang ini yang paling utama dicari dan diketahui adalah fakta dari penyebaran corona ini, tidak sulit untuk mencari dan menggali sesuatu hal yang benar, namun dengan beredarnya hoax agak sulit mengetahui mana fakta dan mana opini.

Pada saat sekarang ini memang benar untuk tetap diam dirumah saja, namun ada hal negatif dan positif dari hal ini. Sisi baiknya adalah agar kita terhindar dari terjangkit virus, karna dengan beramai-ramai kita akan mudah terjangkit, sebab kita tidak tahu siapa yang terjangkit virus di luar sana. Dan dengan tetap diam di rumah kita tidak mendengar opini-opini dari tetangga sebelah kanan-kiri, sehingga membuat pikiran bercampur aduk, hati resah dan gelisah, sebab banyaknya gibah dari tetangga, dan opini dari kita sendiri.

Sangat baik sebenarnya untuk berunding, namun tidak semua orang bisa mendengarkan dan menerima apa yang kita sampaikan, dan kita juga sebaliknya, bisa saja kita yang tidak menerima pendapat mereka sehingga menimbulkan pro dan kontra. Seperti sekarang ini kebijakan pemerintah tentang tidak boleh keluar rumah kecuali yang memiliki kepentingan.

Banyak pertanyaan yang muncul namun tidak dapat dijawab. Yang memiliki jabatan bisa saja bekerja dari rumah, dan mendapatkan gaji dari pemerintah setiap bulannya, namun bagaimana dengan mereka?  Petani, Nelayan, Supir, Tukang bangunan, dan lainnya, bagaimana cara mereka bertahan hidup? Bagaimana cara mereka menghasilkan uang? Bagaimana mereka mengadakan bahan makanan?

Tanpa bekerja mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghasilkan uang, tidak perlu kepada hal yang lain cukup pada anak di rumah, apakah anak bisa sehari tidak jajan, dari mana mereka akan mendapatkan uang untuk jajan, tentu dari orang tua mereka, apabila orang tuanya tidak bekerja darimana mereka mendapatkan uang?

Memang benar sudah ada kebijakan dari pemerintah memberikan bahan pokok makanan untuk masyarakat, namun apakah cukup hanya dengan yang diberikan oleh pemerintah? Tentu saja tidak.

Dibeberapa daerah, termasuk di Aceh Tengah khususnya, dan terkhusus lagi pada pedesaan, ada beberapa tempat dimana petani sudah tidak bisa lagi masuk ke dalam kebun mereka, jalan ditutup oleh penjaga, sehingga yang tadinya hendak pergi ke kebun terhambat akibat ketatnya penjagaan. Sangat disayangkan mengapa tingkat ke kebun saja sudah dibatasi, banyaknya salah pemikiran, salah pemahaman menanggapi kebijakan pemerintah sehingga membuat situasi ini seolah sedang berada dalam perang yang sangat dahsyat, perang yang sangat menakutkan.

Kita memang sedang berperang, berperang melawan virus kecil yang tak kasat mata, namun membunuh ribuan jiwa. Sebenarnya dengan seseorang tersebut pergi ke kebun misalnya, mereka akan terasing, dan jauh dari masyarakat. Dan itu adalah salah satu jalan untuk antisipasi terhadap virus corona ini.

Beberapa waktu yang lalu bahan pangan naik namun hasil dari petani turun drastis, kini sayuran sudah sangan murah, seperti di daerah Gayo khususnya, disini mata uang masyarakat adalah kopi, namun harga kopi sekarang sudah semakin sangat meresahkan warga, disebagian tempat kopi sedang panen, namun dengan harga yang begitu murah masyarakat sangat merasa kecewa. Apalagi daerah yang kopinya sudah selesai masa panen, yang tinggal hanya sayuran, cabe, dan sebagainya. namun dengan merosotnya harga lelah yang dirasakan sudah tidak sebanding dengan apa yang dihasilkan.

Belum lagi menghadapi cuaca yang terkadang panas, terkadang hujan, semakin menghambat kerja mereka. Kemudian secara tiba-tiba tidak boleh masuk ke kebun sendiri. Kebun ini memang bukan terletak di daerah tempat tinggal seorang tersebut, namun apa masalahnya untuk masuk ke kebunnya, toh seseorang tersebut tidak ingin menyebarkan virus namun ingin mencari nafkah untuk keluarganya.

Apakah mereka yang melarang pernah berpikir, apabila seseorang yang ingin ke kebun ini sudah tidak memiliki apa pun dirumah, dia pergi ke kebun dengan minyak motornya saja sudah ngutang kepada orang lain, beras dirumah sudah habis, belanja dirumah sudah tidak ada lagi, ia pergi ke kebun hanya ingin mencari apa yang dapat menghasilkan uang di kebunnya, bukan ingin berpesta, bukan untuk bersenang-senang, apalagi ingin menyebarkan penyakit pada orang lain.

Belim lagi bantuan dari desa belum dibagikan, sebab tidak adanya surat resmi dari atasan. Terlalu parnonya menanggapi kata-kata pemerintah yang mana tidak mencerna apa isi dan apa maksud, tujuan, dari pada pemerintah sehingga membuat masyarakat berpikir bahwa tidak boleh kemana-mana, atau dirumah saja, adalah tidak boleh mencari nafkah, tidak boleh pergi kekebun, atau selainnya.

Sebenarnya maksud dan tujuan dari kata-kata dirumah saja adalah tidak menghindari kerumunan, tidak menggibah, tidak menimbulkan keresahan, sebab dari gibah menimbulkan banyak opini dan timbulnya banyak hoax. Tetap bekerja di luar rumah tidak dilarang, hanya saja menjaga jarak antara orang yang satu dengan orang yang lainnya.

Tidak lelah tidak ada hasil, tidak kerja tidak akan ada uang, tidak berusaha tidak akan dapat apa-apa. Ada lelah maka akan ada hasil, ada kerja maka akan ada uang, dan ada usaha maka akan dapat apa yang diinginkan.

Jangan pernah lelah untuk berusaha, dan jangan pernah lelah untuk terus meminta, bukan meminta pada sesama tapi meminta pada yang maha kuasa, katakan pada diri kita bahwa kita bisa, kita mampu, dan kita sanggup, apa pun yang datang menghalagi maka lawanlah dengan selalu membawa nama Allah bersama dengan kita.

Mohon maaf apabila kata-kata yang saya tuturkan dalam tulisan ini kurang berkenan di hati pembaca, dan membuat hati merasa kesal, kami memohon maaf atas kesalahan yang kami buat dalam tulisan ini, sebab manusia tidak pernah luput dari kesalahan, dan tidak pernah lelah untuk berbuat salah juga.

Kami akhiri dengan memohon maaf kepada pihak-pihak yang mungkin tersinggung atas apa yang saya tuliskan disini.

* Penulis adalaha Mahasiswini Universitas Islam Negri Ar-Raniry

  • Whatsapp

Related posts