Ekonomi Hijau Ala Hutan Kota Banda Aceh

0

Hanya dibutuhkan kreativitas menjadikan limbah atau sampah menjadi produk bernilai ekonomis, seperti limbah plastik kemasan minyak goreng Bimoli menjadi tas jinjing, dompet dan kotak tissue dari plastik kresek, sampah organik menjadi pupuk., konsep ekonomi hijau memang menguntungkan.

” Ini tas jinjing yang dibuat dari limbah plastik kemasan minyak goreng Bimoli” sapa Manda, penjaga kantin merangkap staff bagian informasi  Hutan Kota Banda Aceh, wanita muda yang baru tamat kuliah ini adalah salah seorang komunitas Sahabat Hijau yang ikut mengelola Hutan Kota Banda Aceh.

Tas jinjing yang dimaksud Manda ukurannya sebesar tas jinjing konvensial yang biasa dipakai oleh ibu-ibu saat berbelanja, bedanya hanya dipenuhi tulisan merek Bimoli yang sengaja dibuat rapi. Di dalam kios berdinding papan yang sengaja dicat berwarna hijau itu, rak-rak kayu tersusun rapi, beragam survernir yang dibuat dari sampah plastik dijajakan dengan harga mulai dari Rp 8000 hingga Rp 100 000.

Bagi sebagian orang sampah mungkin tidak punya arti apa-apa, namun berbeda yang dilakukan oleh Komunitas Sahabat Hijau Komunitas ini menjadikan sampah-sampah terutama dari plastik-plastik bekas kemasan berbagai produk” Selain tas jinjing, ada juga dompet dari limbah plastik kresek, kotak tissue dari limbah kulit pohon, pelepah pinang, yang paling mahal adalah sandal yang dibuat dari tali rapali, harganya Rp 100,000″jelas Manda lagi. Beragam produk tersebut, selain dibuat oleh anggota komunitas terdapat juga beberapa produk-produk yang dibuat oleh komunitas-komunitas lain yang dan dijual dikantin tersebut.

Apakah produk-produk daur ulang tersebut laku terjual?  Manda meyakinkan, semenjak awal 2014 lalu, Hutan ditengah kota ini kian ramai dikunjungi, pada hari libur pengunjungan bisa mencapai hingga 500 orang, produk-produk mereka laris manis” Pembelinya dari berbagai kalangan, apalagi belakangan dengan adanya peraturan plastik harus dibeli, mungkin ini produk kami adalah salah satu solusinya”sebutnya. Sandal, tas jinjing dan kota tissue adalah produk yang paling laku.

Selain produk-produk daur ulang, Komunitas Sahabat bekerjasama dengan Hutan Kota Pemko Banda Aceh, juga memproduksi sayur-sayuran organik, pupuk organik dan media tanam organik yang tentunya ramah lingkungan” Kita juga mengembangkan peternakan madu, yang dalam waktu dekat ini akan segera panen” ujar Manda, seraya menambahkan bagi masyarakat yang mempunyai produk-produk daur-ulang yang ramah lingkungan jika berminat dapat menitipkan produknya tersebut dikantin Hutan Kota Pemko Banda Aceh untuk dijual.

***

Udara sejuk dan rindangnya pepohonan membuat suasana terasa nyaman ketika memasuki hutan kota Banda Aceh. Hanya butuh membayar uang parkir ribuan rupiah kemudian berlama-lama di hutan buatan yang berjarak kira-kira 6 Kilometer dari pusat kota Banda mungkin salah satu pilihan yang tepat untuk berekriasi atau sekedar bersantai melepas kejenuhan dari aktivitas yang padat. Hutan ini dibangun atas lahan seluas 7.15 ha di atas lahan bekas tambak warga, pembangunannya melibatkan Pemko Banda Aceh, Bank BNI, Yayasan Bustanussalatin,  dan masyarakat Gampong Tibang. Sekitar 100 meter dari simpang Mesra. Tepatnya di tikungan menuju jembatan Krueng Cut. Memasuki halaman parkir pengunjung akan mendapati jembatan besi dan plang yang bertuliskan “Hutan Kota BNI Banda Aceh”.

Kini Hutan Kota ini sudah ditumbuhi sekitar kurang lebih 3.500 pohon yang berfungsi untuk menjaga ekologi Kota Banda Aceh yang semakin berkembang. Pengagas Hutan Kota adalah Abdul Mutalib Ahmad, pensiunan Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota Banda Aceh ini pernah mendapatkan Kalpataru dari Presiden RI, sebuah penghargaan tertinggi untuk mereka para penyelamat lingkungan. Sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasinya. Kementrian Lingkungan Hidup merekomendasikannya untuk mengembangkan hutan kota. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) Go Green, Bank Negara Indonesia telah membantu Pemerintah Aceh untuk mengurangi emisi karbon serta mendukung program pemerintah One Billion Indonesia Trees (OBIT).

Fasilitas yang ada di hutan kota seperti jembatan gantung yang terdapat di bagian depan, jalur pedistrian, jembatan tajuk (ramp canopy trail), jembatan atas bakau (mangrove boardwalk), area pepohonan, kolam bakau dan pembibitan ikan. Selain itu terdapat taman-taman khusus dengan kelompok-kelompok tertentu, seperti taman bertema herbal yang isinya beragam tanaman herbal, ada taman bambu, taman bunga, dan taman walikota nusantara, taman nusantara ini terdapat 99 jenis tanaman yang berasal dari 99 wilayah di Indonesia. Ke 99 jenis tanaman itu ditanam oleh para walikota daerah tersebut pada acara Apeksi di Banda Aceh 2011 lalu.

Terdapat 110 spesies pohon dan jenis bunga  terdapad di Hutan Kota Pemko Banda Aceh, Setiap pohon dituliskan nama dalam bahasa Indonesia dan dibawahnya dibubuhkan nama latin. Sehingga pengunjung dapat langsung mengenal tumbuhan disana, di antaranya ada ketapang kencana, kamboja atau plumeria sp, sirsak dan beberapa jenis lainnya. Selain tumbuhan-tumbuhan, di taman ini juga hidup tujuh jenis burung, seperti bentet colkat, madu sriganti, kuntul kerbau, kuntul sedang, cucak kutilang, apung tanah, dan kuntul kecil. Keberadaan burung-burung ini menunjukkan fungsi ekolosi hutan kota.

***

Dalam laporannya berjudul Towards Green Economy menyebutkan, ekonomi hijau adalah ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Ekonomi hijau ingin menghilangkan dampak negatif pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan dan kelangkaan sumber daya alam. Kehadiran hutan kota seperti yang dilakukan oleh Pemko Banda Aceh ternyata selain pelestarian lingkungan juga dapat meningkatkan perekonomian. Produk-produk ramah lingkungan dan dari proses daur ulang dan ternyata diminati merupakan perwujudan dan konsep ekonomi hijau.

“Banyak manfaat dengan adanya hutan kota ini sebenarnya, dari segi lingkungan misalnya air sumur yang sebelumnya asin menjadi tawar, begitu juga dengan ada pepohonan yang dapat menjadi penahan angin dari laut. Selain itu, dengan adanya hutan kota ini dapat menampung tenaga kerja, apalagi dengan adanya kantin yang menjual produk daur ulang dari plastik, hal tersebut sangat membantu ekonomi masyarakat sekitar” jelas Suhada, pemerhati lingkungan yang juga bekerja disebuah lembaga non Pemerintah di Banda Aceh.

Apa yang dilakukan oleh Pemko Banda Aceh dalam pengembangan Hutan Kota di desa Tibang sudah sepatutnya mendapat apresiasi. Dilihat dari manfaat ekonomi jangka pendek, hutan kota seperti tidak menguntungkan bagi sebuah kota namun seperti yang dilansir oleh Jurnalbumi.com secara jangka panjang hutan kota mempunyai manfaat yang banyak terutama dari segi ekonomi, seperti manfaat estetika, hidrologis, klimatologis, habitat satwa, menekan polusi, penyimpan karbon, edukatif, rekreatif dan manfaat ekonomi dengan  pengelolaan yang baik hutan kota dapat menjadi daya tarik pariwisata.

Terdapat kota-kota besar di dunia menjadikan hutan kota sebagai ‘magnet’untuk menarik wisatawan, dampaknya bisa dirasakan dari hasil penjualan tiket, ataupun pendapatan tidak langsung seperti bisnis hotel, restoran, travel dan kerajinan souvenir kreatif seperti yang dilakukan oleh komunitas Sahabat Hijau di hutan kota Pemko Banda Aceh.

Arsadi Laksamana

Komentar Anda
SHARE