Dugaan Korupsi Pengadaan Bibit Sapi di Aceh Tengah Jaksa Periksa Tujuh Kelompok Penerima

0

TAKENGON: Kajari Takengon melalui Kasi Pidsus Afriadi Asmin, SH kepada Wartawan mengatakan terkait dugaan  korupsi pengadaan bibit sapi di Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Aceh Tengah, Kejaksaan Negeri Takengon, periksa tujuh kelompok tani penerima bibit sapi tersebut.
“Pemeriksaan tujuh kelompok tani itu merupakan tindak lanjut dari dugaan korupsi pengadaan bibit sapi pada Dinas Peternakan dan Perikanan Aceh Tengah tahun anggaran 2016″ujarnya.

Baca: Waladan Yoga Aktivis GeRAK Gayo: Kejaksaan Aceh Tengah  Jangan “Tidur”

Dalam pemeriksaan tersebut, yang diperiksa adalah ketua kelompok dari masing-masing kelompok untuk dimintai keterangan.”Mereka kita periksa sebagai saksi,” kata  Afriadi Asmin usai pemeriksaan,  Kamis (10/8 2017).
Pemeriksaan tujuh kelompok tani penerima dilakukan terpisah dan berlangsung di kantor Kejaksaan Negeri Takengon.

“Masih ada satu kelompok tani penerima manfaat yang akan di panggil pada Senin 14 Agustus 2017 mendatang”jelasnya.

Keterangan dari sejumlah saksi itu dimaksudkan untuk Pengumpulan data dan Pengambilan Bahan Keterangan (Puldata Pulbaket) dalam menelusuri dugaan korupsi pada proyek pengadaan bibit sapi pada Dinas Peternakan dan Perikanan Aceh Tengah tahun anggaran 2016 itu.

Baca: Kejaksaan Aceh Tengah Bidik Dugaan Korupsi Pengadaan Sapi

Sebelumnya kasus ini mulai bergulir setelah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pemantau Keuangan Negara (PKN) pada 13 Juni 2017 lalu melaporkan ke Kejaksaan Negeri Takengon.

Dalam laporan itu, PKN mengindikasikan adanya dugaan kerugian negara pada pengadaan bibit sapi di dinas peternakan dan perikanan Aceh Tengah tahun anggaran 2016 yang dinilai tidak sesuai spesifikasi.

Koordinator PKN Aceh Tengah Yasir Arafat saat dimintai keterangan kepada wartawan memaparkan dari yang tertera dalam dokumen berita acara serah terima, diketahui umur sapi 18 s/d 24 bulan. Namun menurut Yasir bibit sapi yang diterima kelompok ternak diprediksi hanya berumur 12 bulan.

Pengadaan sapi itu dilaporkan Yasir berjumlah 151 ekor dengan jumlah anggaran Rp2.374.700.000, sumber anggaran Otsus tahun anggaran 2016 dengan rekanan CV Intan Ramadhina.

Pengadaan 151 ekor sapi itu juga dilaporkan tidak sesuai aturan. Kondisi kesehatan ternak saat penyerahan juga dilaporkan melemah.

“Di dokumen Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D), pengadaan 151 sapi itu sudah selesai dilakukan pembayaran 100 persen,” ujar Yasir.

Bukan itu saja, Yasir juga menyebutkan dari total pengadaan sapi tersebut, ditemukan 51 ekor sapi yang diterima kelompok ternak di Kecamatan Linge dan Jagong Jeget telah mati.(Arsadi Laksamana)

Komentar Anda
SHARE