Dua Dosen IAIN Takengon Teliti Nilai Gotong Royong yang Terancam Pudar “Alang Tulung Berat Bebantu”

  • Whatsapp
Kegiatan Focus Group Discussion digelar di Majelis Adat Gayo Aceh Tengah tentang “Alang Tulung Berat Berbantu” (Photo/Kabargayo)

Kabargayo.com, Takengon: Adalah Dr Rosdaniah,MA dan Hilliyani, M.Pd dosen Kampus Intstitute Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon. Keduanya saat ini tengah meneliti tentang “Nilai-nilai budaya alang tulung berat bebantu dalam pengelolaan lahan pertanian pada masyarakat Gayo Aceh Tengah”.

Penelitian yang dilakukan keduanya itu adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat tahun 2021.

Read More

Menurut Rosdaniah, gotong royong telah menjadi nafas kehidupan bagi masyarakat Indonesia, terutama, mereka yang tinggal di pedesaan, semua aktivitas dilandasi dengan semangat kebersamaan melalui gotong royong, salah satu yang sering dilakukan oleh masyarakat Gayo Aceh Tengah dalam bidang pertanian.

Tradisi itu kata dia, disebut sebagai “Alang Tulung Berat Berbantu”, adalah, bantuan dari sesama manusia, jika dipandang dari sudut Agama, merupakan sebuah kewajiban sesama ummat, bentuknya, tidak hanya lewat benda, disisi lain bisa saja seperti pemikiran, pengetahuan, ilmu dan yang bersamaan denganya.

“Aktivitas gotong royong dalam kehidupan masyarakat di wilayah pedesaan kini telah memudar, berbagai daerah pedesaan tak lagi menjalankan kegiatan tersebut dalam mengolah lahan pertanian, lantaran adanya mekanisme tertentu, serta lebih memilih mempekerjakan sesama petani saat bercocok tanam sampai panen,” kata Rosdaniah, Minggu 22/08/2021.

Seriing dengan perkembangan waktu, zaman semakin canggih serta peningkatan tekhnologi kian pesat, sehingga mempengaruhi kehidupan petani dalam pengelolaan lahan secara gotong royong lantaran telah memiliki alat begitu canggih sekaligus dapat menghemat waktu.

“Disisi lain, efisiensi pembiayaan lebih kecil, prosesnya lebih cepat dan dapat dilakukan dengan menyewa alat bantu,” katanya.

Lain itu, perubahan sosial masyarakat perkotaan dan pedesaan memiliki perubahan sistem dan fungsi dari unsur-unsur yanga da pada masyarakat, dari unsur-unsur itu dapat memudarkan niali-nilai tolong menolong, kejujuran dan sopan santun ditengah masyarakat.

“Secara menyeluruh, budaya alang tulung berat berbantu saat ini masih terealisasi di pedesaan, kalau di perkotaan, budaya ini telah luntur, lantaran terjadinya pergeseran nilai-nilai budaya karena adanya perubahan sosial ditengah masyarakat” pungkasnya.

Penelitian yang dilakukan fokus pada bagaimana implementasinya pengelolaan lahan pertanian, bagaimana konsep nilai-nilai budaya Alang Tulung Berat Berbantu pada masyarakat Gayo Aceh Tengah, dan faktor pendukung dan penghambat nilai nilai tersebut dalam pengelolaan lahan pertanian.

“Untuk model nya yaitu, Mango Lo, Mah Atur, Bejamu, Berupah-upahen, Tung Upah dan Berhelat,ini yang akan kami dalami,” kata Rosdaniah.

Pihaknya telah melakukan Focus Group Discussion dengan pengurus Majelis Adat Gayo terkait tujuan penelitian itu, selanjutnya, akan berdiskusi dengan para ahli adat dan budaya Gayo.

Melakukan Assessment untuk validasi terhadap informasi yang didapatkan dari kegiatan pemetaan dan melakukan FGD. Penyusunan buku atau laporan akhir dari pengabdian kepada masyarakat berdasarkan data yang diperoleh dari hasil assessment.

“Semoga upaya untuk mengangkat kearifan lokal ini berjalan lancar, tujuanya, untuk menambah referensi bagi masyarakat Gayo tentang budaya gotong royong yang dilakukan masyarakat Gayo terdahulu,” tutup Rosdaniah didampingi Hilliyani berharap kegiatan itu segera tuntas. (KG31)

Related posts