Dosen dan Mahasiswa Prodi Magister Arsitektur Fakultas Teknik Unsyiah Audensi dengan Bupati Aceh Tengah

  • Whatsapp


Kabargayo.com, Takengon: Bertempat di ruang kerjanya, Bupati Aceh Tengah Drs. Shabela Abubakar menerima audiensi sejumlah dosen dan mahasiwa program studi magister arsitektur dari Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala Banda Aceh,  Senin (09/03/2020)


Rombongan tim audiensi yang dipimpin oleh Kepala Prodi Magister Arsitektur Fakultas Teknik Unsyiah, Dr. Laina Hilmasari, ST., M.Sc menyampaikan tujuan beraudiensi adalah terkait dengan rencana penelitian yang akan dilakukan oleh Dosen dan Mahasiswa Prodi Magister Arsitektur Unsyiah mengenai sejarah perkembangan kota dan arsitektur serta kajian perencanaan dan pelaksanaan mitigasi bencana di Kota Takengon.

Read More


“Setidaknya ada tiga agenda yang ingin kami sampaikan dalam kesempatan audiensi ini, yang pertama kami ingin mendapatkan masukan mengenai perkembangan kota dan arsitektur di Takengon dan keterkaitannya dengan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, selanjutnya kami ingin mendengarkan bagaimana sejarah kota lama dan kota baru di Takengon, serta kami ingin mengetahui bagaimana kajian perencanaan dan pelaksanaan mitigasi bencana”, jelasnya.


Dikatakan Laina, Kota Takengon dinilai layak dikunjungi untuk dijadikan lokus penelitian karena perkembangan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Menurut dia, Bupati saat ini berhasil mengorganisasikan pemerintahannya untuk menata kotanya dengan baik.


“Disamping penelitian ini juga merupakan penelitan dosen, sengaja kami melibatkan mahasiswa untuk kami ajak kelapangan guna melihat bagaimana idealnya mengembangkan wilayah perkotaan yang terkonsep dan mampu mendukung program pariwisatanya, sehingga kami khususnya para mahasiswa ingin belajar bersama bapak disini”, tutur Laina.


Laina juga menyampaikan bahwa selama di Takengon, mereka akan mengunjungi sejumlah bangunan dan tempat yang dianggap mendukung dalam pengumpulan data riset ini.


Sementara itu, Bupati Shabela mengawali sambutannya mengemukakan bahwa, membangun sebuah kota dan peradabannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah, melainkan perlu kerjasama dari banyak pihak, khususnya dari masyarakat akademis yaitu perguruan tinggi, karena hasil penelitiannya sudah pasti telah diuji secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.  


“Dalam pembangunan sebuah kota, dibutuhkan dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak. Pemerintah Aceh Tengah selalu membuka diri untuk setiap masukan, apalagi kalau kontribusi tersebut berasal dari lembaga perguruan tinggi, kami atas nama pemerintah daerah menyampaikan ungkapan terima kasih yang sebesar-besarnya, dan ini tulus, bukan mengada-ada”, ungkap Shabela.


Bupati Shabela juga menyampaikan bahwa untuk mewujudkan tata ruang dan landmark kota yang yang baik, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah mempunyai tekad untuk mewujudkannya bersama arsitek, sehingga pemanfaatan ruang kota dapat lebih efiesien, disamping juga dapat mengakomodir arsitektur khas lokal.


“Beberapa waktu terakhir, banyak arsitek yang ikut berkontribusi untuk memperindah wajah kota Takengon, seperti tahun lalu telah dilakukan sayembara desain tugu simpang lima yang diikuti sejumlah arsitek profesional se Indonesia. Disana kami melihat betapa cerdasnya para arsitek dalam mendesain ruang terbuka hijau maupun landmark yang memiliki filososi khas lokal. Dan kemarin kami juga baru membahas untuk membangun tugu kopi di Takengon, namun untuk lokasinya belum diputuskan tempat yang paling tepat”, tambah Shabela.

 
Sebagai tambahan, Shabela juga menyampaikan sedikit cerita tentang sejarah kota lama Takengon. Beliau bercerita bahwasanya pada mulanya cikal bakal kota Takengon berada di Kampung Bale, Asir-Asir dan Kemili. Selain dari pada kampung itu, wilayah kota seperti yang terlihat sekarang masih berupa kebun, sawah dan kampung yang jarang penduduknya. Barulah setelah Belanda menjejakkan kakinya di Takengon pada tahun 1903, dilakukan perluasan kota yang mengarah ke jalan Putri Ijo dan jalan Sudirman Takengon.


“Mengenai sejarah kota lama Takengon, dulunya aktifitas layaknya sebuah kota di Takengon ini hanya berada di Kampung Bale, Asir-Asir dan Kemili. Diluar wilayah tersebut masih berupa kebun, sawah, tegalan dan perkampungan dengan sejumlah penduduk yang masih jarang-jarang”, ceritanya.


Sebelum menutup acara, Shabela memberi instruksi kepada Kepala Bappeda Aceh Tengah, Kepala Dinas Parpora, Kalak BPBD serta Sekretaris Dinas PUPR Kabupaten Aceh Tengah yang turut hadir dalam audiensi dimaksud untuk memberikan dukungan data demi kelancaran penelitian, dan meminta kepada Dosen Arsitektur yang akan melakukan penelitian untuk dapat mereviu hasil penelitiannya sebelum dijadikan buku.

Bupati juga berharap, semoga hasil penelitian yang akan dituang dalam penelitian yang berjudul “Menelusuri Jejak Peradaban Kota Takengon”,  dapat menjadi referensi dan khasanah membangun kota Takengon sebagai kota sejarah berbudaya. (REL)

Related posts