Dituding ‘Mengcovidkan’ Orang Hingga ‘Berproyek’, Hardiyanis: Kami Juga Korban

  • Whatsapp
Dirut Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datu Beru Takengon Hardiyanis (Foto/Kabargayo)

Kabargayo.com, Takengon: Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datu Beru Takengon resah dengan pernyataan Netizen di Media Sosial menyebutkan Covid-19 menjadi proyek bahkan mengcovidkan orang yang berobat di rumah sakit tersebut.

“Tidak mungkin orang yang tidak Covid kami Covidkan, itu hoak, tidak ada terus orang dengan gejala demam kami bilang Corona, tapi kalau hasilnya mengarah kesana, seperti, rapid test nya reaktif  tentu akan dilakukan protap sesuai Covid hingga terbukti melalui Swab test,” kata Direktur RSUD Datu Beru Takengon dr Hardiyanis, Rabu (16/09/2020) di Takengon.

Read More

Ketegasan itu disampaikan hardiyanis lantaran desas desus itu tersebar luas di Media Sosial, seolah pihak rumah sakit mengambil keuntungan saat musibah Covid menghantui masyarakat di tanah air.

“Tolong jangan ada praduga yang aneh-aneh, seolah kami mendapatkan uang dari musibah ini, tidak ada proyek, kami adalah korban yang rentan terpapar, seperti sebelumnya tenaga medis merawat pasien yang tidak jujur sehingga terpapar covid-19,” katanya semabri menyebut ia belum pernah menerima sepeserpun dalam musibah ini.

“Saya juga heran uang dan proyek yang mana yang dimaksud,” timpalnya.

Bahkan kata Hardi, temuan dilapangan, masih ada warga yang hasil rapid testnya reaktif namun enggan untuk dirawat dan dilakukan isolasi dengan tudingan pihak RSUD akan mengcovidkanya.

“Tidak mungkin kita biarkan begitu saja setalah hasil rapid test nya reaktif, khawatir terjadi kalster baru ditengah masyarakat dan yang disalahkan petugas kesehatan. Jika diisolasi dan dirawat aman untuk kita semua dan aman untuk keluarganya, itu tujuanya,” paparnya.

Untuk masyarakat Aceh Tengah dihimbau untuk tidak takut memeriksakan diri ke Rumah Sakit Datu Beru Takengon. Pihak rumah sakit tidak mungkin mengubah penyakit seseorang. “Percayalah kami tidak pernah mengcovidkan orang,” tegas hardi.

Lain itu, Hardiyanis mengaku Alat Pelindung Diri (APD) di Rumah Sakit rujukan itu hingga hari ini masih tersedia sesuai dengan level. Sebelumnya sempat dikabarkan APD di eumah sakit itu kekurangan.

“Saya tekankan ke para staf untuk APD yang dipakai sesuai level karena ada level 1,2 dan 3, jika diruang Pinere APD yang dipakai itu level 3, Sesuai dengan tempat tugas, untuk manajeman tidak perlu menggunakan APD level 3,” tutup Hardiyanis. (KG31)

Kabargayo.com menerima kiriman artikel dari pembaca, kirim ke email: beritagayo@gmail.com dengan biodata diri.

Related posts