Ditengah Covid-19 Petani Kopi Gayo “Menjerit”, Resi Gudang Apa Kabar?

Ketua Asosiasi Produsen Fairtrade Indonesia Armiadi (kanan)

Kabargayo.com, Takengon; Dunia saat ini sedang diterpa oleh virus Corona yang kian meresahkan. Munculnya virus tersebut selain berdampak terhadap kesehatam turut berdampak terhadap perekonomian masyarakat di tanah air, salah satunya harga beli ditingkat petani dan ekspor Kopi Gayo terganggu.

Harga jual Kopi Arabika Gayo ditingkat petani saat ini tak menentu. Bahkan pengepul enggan membeli gabah Kopi dari petani langsung dengan skala besar. Harga Gelondong saat ini turun berkisar Rp.6000. bahkan saat ini masyarakat mengalami kesulitan menjual Kopi setelah panen.

Read More

“Terakhir kami pantau, harga Kopi Gelondong ditingkat petani berkisar Rp.6000 per bambu, bahkan pengepul kesulitan menjual Kopi seperti didaerah Rusip Antara,” kata Armiadi Ketua Asosiasi Produsen Fairtrade Indonesia, Senin 06 April 2020 di Takengon.

Melemahnya harga jual Kopi Gayo tersebut akibat konsumsi dunia terhadap Kopi Arabika Gayo menurun. selain itu Mall dan restoran tutup bahkan Suplier Dunia sementara tutup, Coffe hampir di seluruh Negara tutup dan Bandara terganggu dengan Covid-19.

Selain itu masyarakat turut dirumahkan akibat virus Corona sebagai tujuan untuk memutus mata rantai penyebaran wabah berbahaya itu. secara otomatis masyarakat membutuhkan kebutuhan-kebutuhan pokok sehari-hari seperti sembako.

“Kopi salah satu kebutuhan barang mewah, konsumsi kopi saat ini melemah, permintaan kopi menurun, ketika permintaan jumlah barang semakin banyak, sementara permintaan kopi menurun harga pasti menurun, sementara panen kopi Arabika Gayo akan segera tiba, ” kata Armiadi.

Negara tujuan ekspor Kopi (Amerika dan Eropa-red) kini sedang mencekam, dalam kurun waktu sehari ribuan orang positif terjangkit virus Corona. Berdampak pada tidak melakukan aktivitas terhadap perdagangan.

Dalam catatan pengamat Kopi itu, terkahir kopi Arabika Gayo di ekspor pada Maret 2020. Sedangkan di bulan April banyak yang meminta Delay (Reschedule) kirim kemudian dibulan Juli 2020 mendatang setelah virus Corona berlalu.

“Pertanyaanya, apakah betul virus ini usai dibulan Juli mendatang, sedangkan menurut World Health Organization (WHO) virus uni usai setelah 2 tahun berlalu,” kata Armiadi berharap Covid-19 itu cepat berlalu.

Kondisi kopi Arabika Gayo saat ini, kemampuan beli rendah. Kopi berada di gudang menunggu Corona berlalu karena bingung mau dijual kemana. Parahnya lagi, pengepul hanya bisa membeli tapi tidak bisa menjual

Hingga saat ini Armiadi memastikan, permintaan ekspor turun 60 persen dari hari-hari biasanya. Bahkan kondisi itu terancam naik jika masih dihantui virus Corona. Standar pengiriman normal setiap harinya memasuki masa panen berkisar antara 100 Kontainer per bulan.

“Perusahaan besar mengirimkan 10 Kontainer perbulan, keseluruhan diprediksi 100 kontainer per bulan. 1 kontainer itu berkisar antara 20 ton. Sejauh ini kita tidak tau kedepan apakah pneurunanya hingga 80 atau 90 persen. Kondisi Kopi saat ini ditentukan oleh kondisi Buyer luar negeri, apabila kondisi luar negri parah maka peluang kopi masih gelap,” terang Armiadi.

Ia turut memberi solusi ditengah menjeritnya Kopi Gayo yaitu dengan mengaktifkan sistem resi gudang. Pemerintah menampung kopi dengan sistem dan aturan yang ada, sehingga perputaran kopi berjalan di Negeri berhawa sejuk itu.

“Solusinya,Pemerintah mengaktifkan resi gudang, dalam masa krisi saat ini petani harus berhemat, kalau bisa tahan dulu, jangan jual kopi saat ini,” tutup Armiadi sembari menyebut saat ini sebahagian perusahaan Kopi dan Koperasi hanya memenuhi kontrak. (KAR)

Kabargayo.com menerima kiriman artikel dari pembaca, kirim ke email: beritagayo@gmail.com dengan biodata diri.

Related posts