Diprotes Terkait BLT, Kepala Desa Rejewali; Ada yang Ingin Menggulingkan Saya

  • Whatsapp
Armaja Kepala Desa Rejewali Kecamatan Ketol Aceh Tengah (Photo/Ist)

KABARGAYO.COM, Takengon; Reje Kampung (Kepala Desa-red) Rejewali Kecamatan Ketol Kabupaten Aceh Tengah sempat viral di Media Sosial diprotes oleh ibu Murniati (45) saat menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dana desa dikampung tersebut.

Menurut keterangan suami Murniati, Abidinsyah (50) ia dikeluarkan dari penerima BLT desa tanpa pemberitahuan apapun dari aparat desa setempat.

Read More

“Itu tidak benar, kami tidak semerta-merta mengeluarkan penerima BLT begitu saja, ada prosedur yang harus kami lalui, yaitu musyawarah mufakat, saya yakin ada muatan lain dalam cerita ini, ada oknum yang ingin menggulingkan saya,” kata Reje Kampung Rejewali, Sabtu (13/06/2020).

Menurut dia, musyawarah penerima BLT dikampung itu dilakukan sebanyak 3 kali, musyawarah pertama dilakukan pada 13 Mei 2020, ditetapkan penerima BLT sebanyak 37 keluarga, selanjutnya, calon penerima itu ditempel difasilitas umum dan menuai respon dari masyarakat.

“Mereka menuntut semua masyarakat menjadi penerima BLT dana desa, lalu dilakukan kembali musyawarah kedua pada 29 Mei 2020 dihadiri sebanyak 81 peserta dari dusun satu dan dusun dua, masyarakat tetap bersikekeh ingin menerima BLT meski hanya menerima Rp50 ribu,” jelas Armaja.

Ia pun menjelaskan kepada seluruh masyarakat kategori-kategori yang berhak menerima bantuan dari anggaran APBN itu, namun masyarakatnya punya opsi tersendiri dalam musyawarah tersebut.

“Munculah sebuah kesepakatan, yang mendapat BLT sebanyak 33 Kepala Keluarga, dengan catatan, satu penerima dibagi untuk 3 orang, Anggaran Rp600 ribu itu dibagi tiga, berarti satu orang hanya menerima Rp200 ribu, 2 orang penerima gandeng dalam penerima BLT ini, namun yang tanggungjawab hanya satu orang,” katanya.

Saat musyawarah itu kata Armaja, semua masyarakat Rejewali sepakat dengan keputusan itu, dengan catatan tidak “ngomel” setelah putusan itu ditetapkan.

“Lalu kami sebar undangan pembagian BLT, tapi, pada malam harinya ada yang menyebar informasi ke Medsos, pembagian BLT disini hanya Rp200 ribu. Kembali kami menggelar rapat mendadak dengan aparatur, putusan musyawarah sebelumnya dibatalkan karena masyarakat ingkar atas keputusanya sendiri, kamipun bergegas untuk menarik kembali undangan yang telah disebar sebelumnya ” terang Armaja.

Selanjutnya, 08 Juni 2020 kembali dilakukan musyawarah dengan masyarakat yang dihadiri sebanyak 32 orang, dalam musyawarah itu ditetapkan penerima BLT sesuai dengan peratutan yang telah dikeluarkan Pemerintah.

“Kami serahkan kepada masyarakat, siapa yang layak menerima, hasilnya, yang berhak menerima sebanyak 86 KK, sedangkan 42 KK lainya telah terdaftar menerima Bansos termasuk yang menyebar video saat aksi protes itu,” tuturnya.

“Perlu kami tekankan, keluarga Abidinsyah tidak dicoret dari penerima BLT, melainkan ini permintaan masyarakat, jika ia dicantumkan dalam penerima BLT secara otomatis dari 41 KK lainya yang terdaftar menerima Bansos akan ikut menerima, kenapa dia bisa kami kenapa tidak, untuk menghindari konflik itu, maka masyarakat memutuskan keluarga Abidinsyah tidak menerima BLT,” jelas Armaja sembari menuturkan suami dari Murniati (Abidinsyah-red)  adalah lawan politik saat pemilihan kepala desa pada tahun 2017 yang lalu.

Ia juga ingin seluruh masyarakat kampung Rejewali menerima bantuan dampak Covid-19 itu, namun apa boleh dikata, anggaran didesa itu tak cukup jika disalurkan untuk seleuruh masyarakatnya. (KG31)

Kabargayo.com menerima kiriman artikel dari pembaca, kirim ke email: beritagayo@gmail.com dengan biodata diri.

Related posts