Di Bener Meriah Masih Banyak Anak Putus Sekolah

REDELONG : Gerakan Anti Korupsi ( GeRAK) Bener Meriah, gelar Forum Group Discusion ( FGD) terkait anak putus sekolah di Kabupaten Bener Meriah, yang di ikuti Kader Morum Mufakat ( MKK), perwakilan Dinas Sosial, perwakilan BPS, dan Tiga Reje Kampung ( Kepala Kampung). Kamis (15/2/2018) di aula Dinas Kesehatan Bener Meriah.

Dari tiga Reje Kampung yang hadir diantaranya Reje Kampung Pondok Gajah, Pondok Baru dan Mutiara. Sedikitnya telah terindentifikasi 17 anak yang putus sekolah berdasarkan data yang mereka sampaikan saat diskusi tersebut.

Dengan rincian dikampung Pondok Gajah sebanyak 9 anak putus sekokah, Kampung Pondok Baru 7 dan Kampung Mutiara 1. Kemungkinan besar Kampung-kampung lain di Bener Meriah juga masih ada anak yang putus sekolah. Hal tersebut disampaikan Istiqomah panitia FGD

Istiqomah menambahkan , melalui FGD membahas terkait anak putus sekolah di daerah ini semoga ada solusi yang kongkrit terhadap anak yang putus sekolah tersebut kedepannya . Ujaranya.

Sementara itu Gunawan Tawar Ketua Komisi C Majelis Pendidikan Daerah ( MPD)Kabupaten Bener Meriah , sebagai Fasilitator FGD tersebut meminta para Reje Kampung mendata anak yang putus sekolah di Kampung masing-masing.

Lanjutnya, mungkin salah satu solusi Reje Kampung dapat mengunakan dana desa karena dalam dana desa ada program pemberdayaan masyarakat. Katanya.

Selain masalah anak-anak putus sekolah, dalam diskusi tersebut Reje Kampung Pondok Gajah, Pondok Baru dan Mutiara Kecamatan Bandar juga menyampaikan program keluarga harapan ( PKH) agar tepat sasaran begitu juga dengan beras kesejahteraan masyarakat (Rastra).

Selama ini, kata Reje Kampung Pondok Gajah baik PKH maupun Rastra masih banyak diterima oleh orang kategori mampu, namun orang yang lebih layak menerima tidak mendapat manfaat PKH tersebut. Sebagai Reje Kampung kami bingung data penerima mamfaat PKH tersebut dari mana dan siapa yang mendata. Tanya Reje Kampung Pondok Gajah.

Jawahirsyah Putra anggota DPRK Bener Meriah mengatakan, terkait masih banyaknya anak-anak putus sekolah kita perlu mempertanyakan kepada Dinas terkait.

” Untuk anggaran pendidikan 20 persen telah di plotkan dari anggaran yang ada didaerah ini, baik itu bersumber dari APBN, APBA maupun APBK “. Sebutnya.

Dari hasil diskusi tersebut ada dua faktor menyebabkan anak putus sekolah, yang pertama faktor ekonomi, dan faktor individu. (Gona)

SHARE