Daud Pakeh Sering ke Gayo, Luput Madrasah Rusak

REDELONG: Kecamatan Pamar berada di sebelah barat Kabupaten Aceh Tengah, jarak tempuh dari Kota Takengon mencapai 46 Kilometer. Sejauh ini sarana prasarana jalan menuju Pamar sudah sangat bagus, walau masih ada tersisa empat kilometer belum diaspal.

Terlepas dari sarana jalan, pamar adalah kecamatan yang selalu mendapatkan perhatian dari pemerintah Aceh Tengah dari semua sisi termasuk bidang pertanian. Hanya satu hal yang saat ini menjadi pembicaraan dan sorotan masyarakat di Medsos, terkait dengan Madrasah Aliyah Swasta dibawah tangungjawab Kemenang Aceh yang tidak diperhatikan.

Di Pamar menurut warga bernama Ibrahim terdapat satu sarana pendidikan yang masih jauh tertinggal dengan sekolah yang layak lainya, apalagi saat Indonesia sudah berpuluh tahun merdeka.

Menurut Ibrahim Madrasah Aliyah Swasta tadi sejauh ini belum mendapatkan perhatian dari pemerintah atau tepatnya Kemenag Aceh. Padahal menurut Ibrahim dalam beberapa bulan ini kepala Kemenag Aceh H. M. Daud Pakeh sering ke Takengon, namun tidak menyempatkan diri untuk melihat kondisi Madrasah Aliyah Swasta yang ada di Pamar.

“Saya dengar begitu, Pak Pakeh sering ke Takengon, tapi tidak sampai ke Pamar untuk melihat kondisi sekolah yang sangat membutuhkan perhatian,” jelas Ibrahim.

Kisah lain juga disampaikan oleh salah seorang anggota TNI bernama Iwan Mulyana berpangkat Kapten bertugas sebagai Danramil 06 Silih Nara juga membawahi wilayah Pamar. Iwan Mulyana sempat memposting gambaran keadaan sekolah swasta tadi. Hasil postingan Iwan Mulyana banyak mendapatkan komentar dari warga Medsos.

Iwan sendiri mengaku sempat memberikan materi pelajaran kebangsaan kepada para pelajar yang berjumlah 23 orang yang terdiri dari kelas 1,2, dan 3. Iwan sebagai prajurit TNI berharap kepada Kemenag Aceh agar memperhatikan sekolah yang berada di Pamar tersebut, karena pasilitas belajar anak-anak tidak seperti yang diharapkan.

Iwan sendiri hadir dan melakukan aktifitas mengajar dengan secara kebetulan hadir di Madrasah Aliyah Swasta tersebut. “Pagi itu, (9/1) saya melakukan “ronda” melihat kegiatan warga dan sampai di depan sekolah, saya lihat belum ada guru, lalu saya menjadi guru dadakan,” kata Iwan kepada wartawan (10/1/2018).

Sekolah yang berada di antara semak belukar itu, tetap dihadiri oleh pelajar untuk menuntut ilmu walau terkadang tidak ada tenaga pengajar disana. Menurut Ibrahim lagi, kadang para anak didik harus pulang, karena tidak ada tenaga pengajar yang masuk.

Hal ini harus mendapat perharian serius dari pemerintah dibawah kementerian Agama. Sekolah yang tidak layak dibangun dengan mengunakan triplek dan seng dengan bentuk memanjang, selain tidak layak huni juga banyak dihuni oleh serangga. (Putra Gayo)