Cerita loyalis Anas hengkang dari Demokrat dapat pelabuhan baru

Mantan politikus Partai Demokrat Saan Mustopa, memilih bergabung dengan Partai Nasional Demokrat (NasDem) setelah gagal terpilih sebagai Bupati Kerawang, Jawa Barat dalam pemilihan kepala daerah 9 Desember 2015 lalu. Oleh Partai NasDem, Saan langsung dipercaya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Provinsi Jawa Barat.

“SK ketuanya kemarin tanggal 3 Januari 2016. Kalau bergabung sejak Pilkada Karawang,” kata Ketua Bapilu Partai NasDem Enggar Triasto Lukita di Bali, Sabtu (16/1).

NasDem sendiri secara umum mengungkapkan alasan mengangkat Saan karena dinilai sebagai tokoh di Jabar. Oleh karena itu layak diberikan ruang untuk memimpin partai.

“Dia tokoh Jabar yang memiliki kemampuan, sayang kalau kita tidak memanfaatkan dan memberikan ruang. Sayang ada tokoh seperti itu yang tidak dapat ruang. Kami tawarkan beliau tertarik,” tandasnya.

Jauh sebelum Saan hengkang, kader Demokrat yang lebih dahulu angkat kaki dari partai yang dipimpin SBY itu adalah I Wayan Gede Pasek Suardika yang kini menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Pasek memilih mengundurkan diri setelah gagal mencalonkan diri sebagai ketua umum Partai Demokrat.

“Hari ini 1 Juli 2015 saya putuskan mundur dan berhenti sebagai Kader Partai Demokrat. Keputusan ini sudah saya sampaikan lewat surat resmi,” kata Pasek dalam akun twitter resminya, @G_paseksuardika, seperti dikutip merdeka.com, Rabu (1/7). Pasek mengaku surat resmi pengunduran dirinya sudah dikirim ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat.

Saan Mustopa dan Pasek dikenal sebagai loyalis mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Saan dan Pasek yang merupakan mantan anggota DPR adalah orang yang menyokong Anas terpilih sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat dalam Kongres II di Bandung, Jawa Barat, pada 20-23 Mei 2010.

Hubungan Saan dan Pasek dengan petinggi Demokrat diisukan tak harmonis, usai KPK menetapkan Anas sebagai tersangka kasus korupsi pembangunan sport center Hambalang. Anas akhirnya resmi menyatakan mundur dari kursi Ketua Umum Partai Demokrat pada Sabtu 23 Februari 2013.

Pasek menjadi salah satu loyalis Anas yang menuding ada skenario dibalik penetapan tersangka tersebut. Loyalis Anas menuding penetapan tersangka tak lain merupakan dorongan dari lawan politik mantan ketua HMI tersebut di Demokrat.

Sementara, pencalonan Saan sebagai Bupati Karawang yang tak didukung oleh Demokrat menjadi bukti jika Saan memang sengaja ‘didepak’ sebagaimana Pasek.

“Kita enggak buang Saan. Kita semua sayang kok sama Saan,” kata juru bicara partai Demokrat, Ruhut Sitompul, di Jakarta, Senin (27/7/2015) lalu.

Menurut penuturan Ruhut, alasan Majelis Tinggi Partai Demokrat tidak memberikan restu kepada Saan untuk maju dalam Pilkada Karawang, hal itu karena berdasarkan hasil survei, Saan berada di peringkat bawah. Partai Demokrat sendiri mengusung Plt Bupati Karawang, dr. Cellica Nurrachadiana.

“Kita ada dua kader Saan dan Cellica. Dan Cellica polingnya Saiful Muljani Research and Consulting (SMRC), dia tertinggi,” ungkap Ruhut.

Ruhut menambahkan, pemberian rekomendasi kepala Cellica bukan suatu ketakutan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terhadap Saan yang merupakan sahabat mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Malahan, seharusnya Saan berterimakasih kepada SBY karena diberi kursi Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR.

“Nggak ada takut, siapa dia?” tandas Ruhut.

Seperti diketahui, dalam Pilkada Karawang lalu, Saan Mustopa berpasangan Iman Sumantri, didukung tiga partai yakni Partai Golkar, Partai Gerindra, dan Partai NasDem. Sementara itu, Demokrat sendiri mencalonkan Plt Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana yang berpasangan dengan Ahmad Zamakhsyari. Selain didukung Partai Demokrat, pasangan Cellica-Ahmad juga didukung PKB, PAN, PKS, dan PPP. (merdeka.com)

Komentar Anda
SHARE