Cerita Bank Sampah Dari Lot Kala di Aceh Tengah

0

lot-kalaTAKENGON-“Warna” yang mencolok tersebut adalah dimulainya pengelolaan sampah warga yang ditampung dengan pola Bank Sampah dan dapat ditukar dengan Sembako maupun sejumlah uang.

“Awalnya seperti mengayuh sepeda yang terasa berat, tapi sekarang warga sudah mulai sadar dan sangat antusias,” ungkap Kurnia kepada Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin yang datang berkunjung ke kampungnya, Sabtu (17/09).

Menurut Kurnia saat ini sudah ada 40 kepala Keluarga yang rutin membawa sampahnya ke Bank Sampah, bahkan aktivitas pengumpulan sampah tersebut sudah mulai merambah ke kampung tetangga, setidaknya Kurnia menyebutkan sudah ada 20 kepala keluarga yang rutin membawa sampah ke tempatnya.

Kurnia mengakui saat ini perminggu pihaknya sudah mampu menerima 1,5 ton sampah yang kemudian diolah menjadi berbagai kerajinan tangan seperti tudung saji, tempat penyimpanan, tas, bunga, vas bunga maupun wadah yang bermanfaat lainnya.

“Selama setahun berjalan, sekarang beberapa warga yang sudah terbantu untuk membayar rekening listrik maupun air hanya dengan sampah keluarganya sehari-hari,” kata Kurnia.

Manfaat lainnya, Kurnia melanjutkan, pihaknya telah memberikan kontribusi dalam penanganan sampah, memberi peluang kerja bagi pemuda setempat dan tentunya ikut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Bupati Nasaruddin menanggapi positif inisiatif yang telah dilakukan oleh aparat kampung Lot Kala dan warganya sebagai teladan bagi kampung lain di daerah itu.

Sebagai kampung yang terletak di wilayah perkotaan, menurutnya Lot Kala telah mampu menangani persampahan yang kerab menjadi masalah utama di pemukiman padat umumnya di perkotaan.

“Keberhasilan dalam menangani sampah telah membuat Kampung Lot Kala mampu mengubah tantangan menjadi peluang yang bermanfaat bagi kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nasaruddin mengatakan apa yang sudah dirintis oleh Kampung Lot Kala dapat dikembangkan di seluruh seluruh kampung di daerah penghasil Kopi Arabica tersebut.

“Minimal tahap awal dikembangkan pada satu kampung di satu kecamatan, baru berikutnya diharapkan dapat berkembang pada setiap kampung di masing-masing kecamatan, ini bisa dilakukan karena potensinya ada dan menjadi bagian tugas kita bersama untuk mewujudkannya,” tegas Nasaruddin.(Rel)

Komentar Anda
SHARE