Besarnya “Pajak Kopi” Dikhawatirkan Berdampak Turunnya Harga Ditingkat Petani

REDELONG:Menanggapi pajak pertambahan nilai yang harus dibayar yang mencapai 10 persen untuk setiap transaksi kopi domestik dikhawatirkan akan menurunkan harga kopi tertutama kopi Gayo di tingkat petani.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur lembaga kajian Sahabat Petani Kopi, Mustawalad, “Pajak memang sangat memberatkan dan akan masuk ke biaya produksi sehingga akan menurunkan harga di tingkat petani. Karena harga penjualan ekspor sudah termasuk pajak”ujarnya, Rabu ( 14/11/2018).

Sebagaimana diketahui Pajak Pertambahan Nilai yang berlaku untuk kopi terhitung sejak tahun 2015 dan mulai beberapa bulan terakhir petugas pajak sudah meminta Koperasi untuk membayar kewajiban yang besarnya mulai Rp. 500 juta hingga Rp. 4 Miliar.

Pajak yang mencapai 10 persen itu dinilai terlalu memberatkan, kekhawatiran yang paling ditakutkan adalah berpengaruh terhadap turunnya harga kopi Gayo ditingkat petani dan tentu saja akan merugikan petani kopi, terutama petani Gayo ditengah geliat pasar yang sedang bergairah.

Asosiasi Producer Fairtrade Indonesia mencatat 60 ribu kepala keluarga petani kopi Gayo, yang tersebar di Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues dan terdapat 24 Koperasi Produsen Kopi yang bersertifikat Fairtrade dan anggota mencapai 35 ribu kepala keluarga.

Menurut Mustawalad pemerintah harus serius memperhatikan permasalahan ini, terutama demi kesejahteraan petani kopi Gayo dan harus dicarikan solusi.

“Pemberian insentif pajak dari pemerintah terhadap produk ekspor seperti kopi, dan pajak dari ekspor kopi di kembalikan ke kopi untuk peningkatan produksi dan promosi kopi di dalam dan luar Negeri”pungkas Mustawalad.( Arsadi )

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!