Berpetualang Mencari Cita Rasa dan Aroma Kopi Gayo di Takengon

  • Whatsapp
Kopi Gayo siap di panen (Photo/KBA.one)

Penulis Radiah Ananda

 (Mahasiswi PIAUD Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri Langsa )

Read More

Kota Takengon adalah satu kota yang yang terletak di ujung pulau sumatra yang berada diwilayah profensi Aceh, memiliki letak geografis antara 3º45’0”–4º59’0”LU dan 96º16’10”–97º55’10”BT. Ketinggian tempat diantara 900 – 1700 m dpl merupakan habitat yang ideal untuk budidaya kopi. Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, Luas areal perkebunan kopi di kedua Kabupaten ini mencapai 80% (96 ribu hektar) dari total luas lahan kopi di Provinsi Aceh (121 ribu hektar), Perkebunan kopi yang ada seluruhnya merupakan perkebunan rakyat dengan jumlah petani mencapai 77 ribu Kepala Keluarga (KK) (Dinas Perkebunan Provinsi Aceh, 2014).

Kopi gayo adalah sebuah kata-kata yang langsung terlintas di pikiran masyarakat Aceh,  ialah kota takengon. Dingin suasana jika menginginkan kehangatan di tengah-tengah kota harus di iringi dengan secangkir kopi dengan gula dan kemengahan cita rasa dan aroma yang tidak pernah gagal akan kualitasnya.

Sejuk nya embun pagi di kota dingin tidak lengkap kalau tidak ada segelas kopi, Kopi sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat takengon, para pencinta kopi bukan hanya tentang secangkir gelas saja tapi Cuma terdapat arti kehidupan yang sebenarnya, banyak orang yang mendefiniskan bahwa secangkir kopi adalah obat dari segala penyakit kehidupan.

Pada akhir bulan desember kemarin saya mendapatkan tugas kuliah pengapdian masyarakat di kota takengon, dan sangat bertepatan berakhirnya masa panen, Saya melihat disekelilng jalan menuju kota banyak sekali pohon-pohon kopi dan kedai-kedai kopi yang menyediakan berbagai minuman kopi dan makanan ringan, nikmatnya cita rasa dan aroma pada saat saya minum secangkir gelas kopi di pagi hari membuat saya ingin mencoba memetik langsung buah kopi dari batangnya sendiri.

Memetik Buah Kopi

Lokasi Memetik kopi (*)

Saya mendapatkan kesempatan untuk berkenjung di kebun kopi milik salah satu petani kopi di desa cibro milik ibu sulastri, Langit cerah dan berwarna biru di atas kota membuat saya sangat bersemangat untuk langsung memetik buah kopi, jalanan yang sudah di barisi dengan pohon kopi, pengunungan yang indah, suara burung yang berkicau menjadi hiburan untuk para petani kopi, buah kopi pada saat saya datang masih sangat banyak dan kami pun membawa tas yang akan digunakan sebagai alat untuk menapung buah kopi yang kami petik, sebagian batang kopi yang sudah berbunga berwarna putih menandakan bahwa sebentar akan timbul buah yang baru, buah yang berwarna merah menjadi penyemangat para petani kopi di gayo.

Setelah selesai kami memetik kopi saya juga melihat proses pengilingan biji kopi dengan mesin, setelah selesai kemudian biji kopi di cuci hingga bersih memisahkan kopi dari kulit terluar dan (bagian daging), dimana prosesnya dilakukan dilakukan didalam air mengalir, dan untuk kulit buah para petani kopi memanfatkanya sebagai pupuk sebagai penyubur tanaman yang lainya.

Penjemuran Kopi

Kopi Gayo yang sedang dijemur (*)

Buah kopi yang sudah selesai di petik dan di giling dan di bersihkan pada masyarakat gayo, untuk selanjutnya ialah proses penjemuran, penjemuran kopi tentunya dilakukan di bawah sinar cahaya matahari kurang lebih sampai 3 atau 4 minggu, tapi terkadang perubahan iklim cuaca  musim penghujanan di daerah takengon membuat penjemuran kopi sedikit banyak memakan waktu. Walaupun penjemuran buah kopi di musim penghujanan sedikit memerlukan banyak waktu tetap tidak dapat merubah rasa dan aromanya. Untuk kopi yang sudah kering dan tahap selanjutnya melepas kulit kopi dari bijinya untuk para petani kopi di takengon bisa menggunakan mesin kopi dan bisa juga menggunakan alat tradisional ( legen ) adalah alat yang menggunakan batang kayu yang sudah dibentuk  menjadi segi empat dan diberi lobang dan sebuah tongkat kayu untuk cara pengunaanya cukup di tumbuk-tumbuk hingga biji kopi menjadi terlepas dari kulitnya

Menyangrai Kopi

Warga Aceh Tengah sedang Menyangrai Kopi Gayo (*)

Untuk tahap selanjutnya ialah menyangrai di kopi pada proses ini merubah biji kopi menjadi warna coklat, pada proses ini semerbak aroma wangi dari biji kopi sangat kuat dan pada tahap membuat saya tidak sabar untuk mencicipi cita rasa kopi yang dari kota takengon. Selanjutnya ialah tahap pengeolahan bijik kopi menjadi bubuk kopi menggunakan mesin.

Menyedu segelas kopi

Kopi Gayo siap dinikmati (*)

Nikmat menyedu kopi di pagi hari untuk pertama kali di kota takengon merupakan suatu momen  yang sangat berharga bagi saya, untuk cita rasa dan aroma kopi gayo tetap juara di mata saya. Tiga puluh lima hari saya berpetualangan mencari Cita rasa dan Aroma kopi gayo di kota takengon, mulai dari berkunjung ke kebun kopi, memetik kopi, mengiling biji kopi, membersihkan biji kopi, menjemur biji kopi, menyangrai kopi dan menyedu kopi luar biasa indahnya, jika anda yang ingin melakukan berpetualangan seperti datanglah ke kota Takengon, Gayo, Aceh pada bulan november dan september karna pada bulan tersebut sedang berlangsung panen diseluruh desa, Tak percaya? Silahkan datang dan nikmati secangkir kopi yang menjadi salah satu kopi yang terkenal diseluruh dunia : Gayo Arabika. (**)

Related posts