Beretika Refleksi Unsur Etis Manusia

  • Whatsapp


Oleh: Dr. Joni MN, M.Pd.B.I.*

Apa Itu Etika

Etika dimulai ketika saat manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia yang satu terhadap manusia lainnya, agar hati dan perasaan masing-masing tidak saling tersinggung dan tidak terluka.

Mengapa Harus Beretika

Manusia adalah ragam bentuk dari mahluk sosial, jadi ketika mereka berinteraksi dengan mahluk yang lain, seperti sesama  manusia, dan/atau dengan mahluk lainnya mereka harus mengerti serta harus tahu tata krama, tata tertib, tata bicara dan tata laku atau etika berinteraksi yang baik, agar interaksi dan komunikasi dapat berjalan dengan lancar kemudian sukses.

Etika dalam konteks ini adalah ekspresi dari perwujudan atas gambaran hati dan pikiran diri kita yang ditransfer ke dalam prilaku sehari-hari. Jika  hati dan juga pikiran sudah terbiasa dengan melakukan kebaikan, maka gambaran prilaku kita pun terbawa dengan kebaikan itu pula. 

Dampak Hidup  Beretika

Jika manusia-manusia itu sidah mempunyai etika yang bernilai baik dalam hidupnya maka manusia tersebut pasti akan dihargai dan dihormati oleh sesama bahkan oleh mahluk lain pun mereka tidak akan dirugikan atau diganggu.

Sehingga dengan itu, etika sangat penting diberlakukan dalam seluruh aspek kehidupan kita dan sangat perlu diterapkan dalam proses saat menjalani hidup dan saat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari agar tercipta kondisi yang kondusif, yang meliputi: indah, nyaman, damai dan harmonis.

Bentuk-Bentuk Etika 

Perilaku yang beretika, yakni perilaku yang tidak merugikan kebaikan-kebaikan yang ada pada diri orang lain baik dari sisi non fisik maupun dari sisi fisiknya. Hal ini dijaga melalui tindakan yang langsung atau pun tindakan yang tidak langsung.

Etika dapat terwujud melalui tindakan, perilaku, cara berbicara, pemilihan kata-kata yang hendak dituturkan, sikap, mendengar, melihat, dan sikap menanggapi sesuatu.

Etika berbicara: sopan dan santun, baik dari cara berbicara, memilih kata-kata yang relevan, artinya yang tidak menyinggung perasaan orang. Caranya sebelum diungkapkan perlu dirasakan untuk diri sendiri, bagaimana kalau kata-kata tersebut dilontarkan oleh orang kepada kita, apa perasaan kita. Maka, seperti apa yang kita rasakan itu-lah yang akan dirasakan orang ketika kita ungkapkan kata-kata tersebut.

Etika dalam bersikap, yakni sikap mengkomentari pendapat orang lain, yang mana selalu diawali dengan kata-kata kontraversi, tidak pernah menghargai pendapat orang lain, argumen orang selalu salah. Sikap yang lain, seperti bertindak di depan orang yang lebih tua tidak ada hormat, seolah-olah dianggap seperti teman seusianya. 

Di sisi lain, cara memandang orang yang sedang berbicara dengan pandangan sinis, dan mendengar orang yang sedang mengajak berbicara dengan pandangan tidak kepada si pembicara tetapi ke fokus lain (anggap remeh), kemudian bersalaman dengan orang tetapi muka dan pandangannya tidak kepada orang yang disalami (sombong danvangkuh) dan masih banyak tindakkan serta perilaku yang merusak pukiran, melukai perasaan dan menyakiti hati orang lainnya .

Berdasarkan pemikiran diatas maka berpikir dan merasakan atas yang hendak diperbuat terlebih dahulu sebelum bertindak atau sebelum berbuat ini adalah usaha untuk menjaga perasaan dan hati orang dari terluka atau sakit. Tolok ukur bagaimana cara agar orang (mitra kita) lain tidak merasa tersinggung, sakit hati, dan tidak terluka perasaannya atas tindakkan yang hendak dilakukan adalah dengan cara merasakan kedalam diri pribadi dahulu tentang apa yang hendak kita perbuat atau hendak ditindakkan kepada orang lain.

Oleh karenanyalah, Rasakan terlebih dahulu sebelum orang lain merasakan atas rasa apa yang hendak ditindakkan kepadanya. Berpikir dan menilik terlebih dahulu tentang perkara yang hendak dilakukan dan yang hendak diperbuat hal ini merupakan suatu bentuk usaha bentuk tindakkan  preventif dari kecerobohan dan inilah yang dimaksud dengan konsep etika dalam berinteraksi dalam menuju kesuksesan berkomunikasi dalam penyampaian pesan kepada mitra tutur atau komunikan.

Etika yang baik adalah etika yang berlandaskan kepada konsep keyakinan (agama) dan konsep indijeniusitas atau pun sub terkecilnya adalah konsep kearifan lokal dimana suatu masyarakat tersebut hidup dan tinggal.

*Penulis adalah: Dosen ALWASHLIYAH Takengon dan Ka. Penelitian, Penelitian di MAG (Majelis Adat) Takengon – Aceh Tengah.

  • Whatsapp

Related posts