Beragam Model Keluarga, Kita yang Mana?

  • Whatsapp

Oleh: Johansyah*

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Dalam bahasa arab keluarga di sebut dengan usrah, yaitu wadah yang berkumpulnya suami, istri dan anak anak. Dalam Islam sendiri keluarga ini bertujuan sebagai proses regenerasi secara sah, berusaha mewujudkan sakinah, sehingga tercipta mawaddah wa rahmah serta memperjelas garis keturunan.

Read More

Quraish Shihab, dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an (1999: 5), menjelaskan bahwa keluarga sebagai rumah tangga yang di dalamnya berkeadaan atau perasaan senang (lepas dari segala yang menyusahkan, kesenangan dan ketenangan hidup lahir dan batin. Sementara dalam jurnal Mimbar Ulama Indonesia (2002: 25) disebutkan bahwa keluarga dalam Islam itu merupakan mereka yang berhasil membina rumah tangga sesuai dengan ajaran Islam; anak-anaknya taat beribadah, berhasil dalam belajar dan punya hubungan sosial yang kuat.

Berdasarkan pada beberapa rujukan di atas, dapat dikatakan bahwa keluarga merupakan wujud dari sebuah rajutan pernikahan sah antara seorang laki-laki dengan perempuan untuk membina rumah tangga bahagia sesuai menurut tuntunan Islam. Di dalamnya ada suami, istri, dan anak. Suami adalah kepala rumah tangga yang bertanggung jawab secara lahir dan batin terhadap istri dan anggota keluarga. Istri memiliki peran utama dalam memberikan layanan prima pada suami, dan mengasuh anak-anak. 

Di jaman now, tugas dan kewajiban suami istri terkadang tidak mengenal batas lagi. Banyak istri yang bekerja di luar rumah dengan ragam profesi untuk membantu suami mencari nafkah. Di rumah sendiri, suami juga dapat membantu istri dalam meringankan beban pekerjaan rumah. Namun begitu, tentu pada batas yang wajar. Hal terpenting adalah suami dan istri dapat saling mengerti dan saling mendukung dalam berbagai hal selama itu berorientasi pada kebahagiaan bersama.

Lima model keluarga

Berdasarkan amatan saya, ada lima model keluarga yang lazim kita temukan dalam masyarakat. Pertama, keluarga pasar. Yakni keluarga yang kesehariannya sibuk dengan urusan duniawi. Kehidupan dalam benak keluarga ini tidak lain adalah mengkalkulasi keuntungan materi dari setiap aktivitasnya, sehingga orientasi utamanya adalah uang dan materi. Mereka peras keringat banting tulang hanya untuk menimbun harta dan kekayaan. Mereka merasa puas, dan seolah-olah sudah mencapai tujuan dan kebahagiaan hidup dengan materi tersebut.

Kedua, model keluarga hotel. Keluarga model ini menjadikan keluarga tidak bermakna. Rumah hanya dijadikan tempat menginap untuk numpang tidur. Tidak ada interaksi yang mesra antara anggota keluarga. Suami pergi pagi pulang malam. Istri sibuk dengan urusan sendiri di luar rumah. Aktivitas anak tidak pernah dibimbing dan diawasi, baik di dalam rumah, terlebih lagi di luar. Relasi antar anggota keluarga tidak lebih dari relasi ATM. Ayah dan ibu hanya memenuhi kebutuhan materi anak. Ketika mereka minta uang,  langsung diberikan. Tapi soal pendidikan anak tidak pernah dipikirkan.

Ketiga, model keluarga mahkamah. Keluarga model ini senang dengan keributan dan perkara. Ribut antara suami dan istri, antara anak dan orangtua, atau ribut dengan tetangga. Keluarga model ini adalah keluarga yang sensitif, mudah tersinggung, dan hobi bertengkar. Mungkin kita sering dengar, seroang anak tega memenjarakan ibu kandung sendiri hanya karena warisan. Seorang anak tega menganiaya ayah karena tidak memenuhi keinginannya. Atau antar saudara tidak akur karena berebut warisan. 

Keempat, keluarga kuburan. Yaitu keluarga yang angker karena sepi dari kegiatan-kegiatan keagamaan. Orangtua tidak pernah mengajak anaknya untuk shalat, mengaji, dan aktivitas positif lainnya. Di rumah itu tidak pernah bergema ayat suci al-Qur’an. Rumah itu sepi dari zikir kepada Allah. Kehidupan bagi keluarga ini tidak lebih dari sekedar hidup. Tidak selera dengan kehidupan dunia, tidak pula berpikir untuk kehidupan akhirat.

Kelima, keluarga masjid. Yakni keluarga ideal sebagaimana yang diharapkan al-Qur’an. Keluarga ini hidup rukun dan tenteram karena dinaungi cahaya Ilahi. Rumah tangga mereka diliputi suasana tenang dan bahagia. Al-Qur’an senantiasa bergema. Mereka rajin beribadah, sering shalat berjama’ah, aktif dalam kegiatan sosial, dan dermawan. 

Keluarga ini mengutamakan pendidikan agama. Mereka menyadari akan pentingnya pendidikan akhlak, di samping pentingnya mendidikan anak agar menjadi generasi cerdas. Jika mereka memiliki empat orang anak, semuanya dapat mendatangkan berkah dan dapat menyenangkan hati orangtua karena berbakti. Di saat orangtua sakit mereka merawatnya dengan tulus. 

Kita yang mana?

Berdasarkan lima model keluarga di atas, kira-kira keluarga kita model yang mana? Semoga yang terakhir, keluarga masjid, atau keluarga Islami. Rasulullah Saw melukiskan bahwa; baity jannaty (rumahku adalah surgaku). Ketika dalam keluarga kita temukan kenyamanan, keharmonisan, dan kebahagiaan, saat itulah rumah menjadi surga. Namun kalau rumah seperti pasar, hotel, mahkamah, maupun kuburan, tentu bukan menjadi surga, tapi neraka, jauh dari kebahagiaan.

Untuk dapat mewujudkan keluarga masjid sebenarnya tidak sulit, asalkan rumah tangga dilandasi oleh nilai-nilai Islami. Suami sebagai nahkoda harus mampu membawa bahtera keluarga menuju pantai keridhaan Tuhan. Sebagai nahkoda dia harus mampu menjadi teladan bagi anggota keluarga yang lain. Suami harus menjadi pelindung dan imam bagi istri dan anak-anaknya.

Tidak hanya suami yang dituntut taat dan saleh tentunya, istri juga sama. Makanya Islam sangat menekankan seseorang agar pintar memilih jodoh. Kata Rasulullah Saw; ‘kamu menikahi wanita itu karena empat hal; karena kecantikan, keturunan, kekayaan, dan karena agamanya. Namun kalau bisa pilihlah yang keempat, yakni karena agamanya’ (hadits). 

Kalau hanya suami yang taat dan istri tidak, akan sulit mewujudkan rumah tangga Islami. Tidak akan ada keserasian antara keduanya. Dalam al-Qur’an dikisahkan bagaimana kondisi keluarga nabi Nuh As. Istrinya tidak mau beriman, dan anak beliau juga akhirnya durhaka. Lain halnya dengan Asyiah sang istri yang taat, tapi suaminya fir’aun ingkar kepada Tuhan. Akhirnya keduanya tidak akur. Keluarga ideal yang dicontohkan al-Qur’an adalah keluarga nabi Ibrahim As. Semua anggota keluarga taat kepada Allah. Kembali pada pesan Rasulullah Saw tadi, kenapa ditekankan memilih jodoh karena agamanya? Karena hanya dengan agama suami dan istri dapat menyamakan visi hidup, dan dapat saling memahami kekurangan masing-masing.

Pada akhirnya jika kita ingin mewujudkan keluarga model masjid, teladanilah rumah tangga Rasulullah Saw. Suami dan istri haruslah taat menjalankan perintah agama. Ketaatan mereka berdua akan diteladani oleh anak-anaknya. Anak akan shalat jika melihat orangtuanya shalat. Anak juga akan mengaji jika melihat orangtuanya mengaji. Mungkin juga anak akan hobi menulis, melukis dan pekerjaan lainnya yang itu menjadi rutinitas orangtuanya. Untuk itu, jadilah teladan yang baik bagi anak, dan budayakanlah perilaku-perilaku positif sehingga melekat dalam diri anak. Semoga rumah tangga kita termasuk pada keluarga masjid, yaitu rumah tangga Islami. Wallahu a’lam bishawab!

*Penulis Buku; Sentuhan Qalbu, Agar Hidup Lebih Bermakna.

Kabargayo.com menerima kiriman artikel dari pembaca, kirim ke email: beritagayo@gmail.com dengan biodata diri.

Related posts