Arah Baru UMKM Indonesia 2020 dengan “Peer-to-Peer Lending”

Oleh: Maya Rizki Sari, S.E **

Setiap kita merasakan dampak dari perekonomian. Termasuk salah satu efek dari berkembang pesatnya Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Ditambah dengan perkembangan teknologi saat ini yang telah melewati batas-batas negara membuat UMKM menjalar ke berbagai penjuru dunia. Hal ini tentu saja membawa dampak yang positif terhadap Indonesia. Melalui laju pertumbuhan yang pesat, pemerintah memiliki target pada 2020 nanti akan ada 180 juta pengguna (konsumen), dengan transaksi digital yang dilakukan akan mencapai angka USD 130 Miliar, atau Rp 1.700 Triliun.

Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi atau Fintech peer-to-peer (P2P) lending dianggap sebagai alternatif investasi dan pinjaman bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang berpotensi dapat mendorong perekonomian nasional dalam ke depannya.

Lahirnya financial technology atau fintech (tekfin) peer-to-peer lending ( p2p lending), yang didukung kekuatan teknologi, menjadi angin segar bagi solusi pembiayaan dengan menghadirkan berbagai kemudahan bagi para UMKM. Sebagai penghubung antara pihak yang membutuhkan pinjaman (borrower) dan pihak pemberi pinjaman (lender), p2p lending mampu menjadi jembatan bagi kebutuhan bisnis UMKM dan ekonomi kreatif untuk tetap produktif.

Melalui alur pendanaan yang lebih mudah dan cepat, serta bunga yang kompetitif dibandingkan layanan keuangan konvensional, p2p lending dapat menjadi solusi pendanaan yang tepat sasaran bagi segmen kreatif dan industri padat modal lainnya yang belum seluruhnya tersentuh oleh bank. Hal ini juga sejalan dengan meningkatnya model bisnis sharing economy di Indonesia, terutama yang berbasis teknologi.

Dalam perekonomian Indonesia UMKM merupakan kelompok usaha yang memiliki jumlah paling besar dan terbukti tahan terhadap berbagai macam goncangan krisis ekonomi. Kriteria usaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil dan Menengah telah diatur dalam payung hukum.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) ada beberapa kriteria yang dipergunakan untuk mendefinisikan pengertian dan kriteria Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.

Sebagaimana yang disampaikan Iskandar Simongkir selaku Deputi Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Juli 2018 lalu bahwa besarnya nilai sumbangan UMKM terhadap PDB nasional mencapai angka 60,34 persen. Adapun jika didetailkan, jumlah usaha kecil adalah sebesar 93,4 persen, usaha menengah 5,1 persen, dan usaha besar hanya 1 persen. Jumlah pelaku UMKM yang ada di Indonesia berkisar 59,2 juta. Di atas kertas, angka ini tentu cukup besar.

Meski begitu, kenyataannya, besaran ini tidaklah berubah terlalu signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Dengan kata lain, perkembangan UMKM di Indonesia cenderung masih belum terlalu memuaskan dari kacamata pemerintah. Hingga kini, pertumbuhan UMKM masih hanya sebesar 5%. Melalui Kementerian Koperasi dan UKM, pemerintah Indonesia mengharapkan pertumbuhan usaha mikro Indonesia dapat tumbuh dengan pesat. Tidak tanggung-tanggung, hingga akhir 2019 nanti, pemerintah menargetkan jumlah UMKM di Indonesia sebesar 5% dari total penduduk.

Pemberdayaan UMKM di tengah arus globalisasi dan tingginya persaingan membuat UMKM harus mampu mengadapai tantangan global, seperti meningkatkan inovasi produk dan jasa, pengembangan sumber daya manusia dan teknologi, serta perluasan area pemasaran. Hal ini perlu dilakukan untuk menambah nilai jual UMKM itu sendiri, utamanya agar dapat bersaing dengan produk-produk asing yang kian membanjiri sentra industri dan manufaktur di Indonesia, mengingat UMKM adalah sektor ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.

Pemberdayaan UMKM

Keberadaan FinTech P2P lending seperti Modalku selain membuka akses bagi pembiayaan UMKM dapat menyediakan instrumen alternatif investasi yang baru dan terjangkau. Riset Oliver Wyman dan Modalku memproyeksikan akan ada financing gap bagi UMKM yang tidak dapat dipenuhi institusi keuangan sebesar Rp 720 triliun di tahun 2020.

Di sini, P2P lending dapat berperan besar sebagai solusi permasalahan ini dengan menyediakan produk yang cocok dan user-friendly bagi kebutuhan UMKM dan pencari alternatif investasi. Dengan mendanai pinjaman UMKM melalui P2P, pemberi pinjaman mendapatkan alternatif investasi dengan tingkat return yang menarik. Di sisi lain, peminjam mendapatkan pinjaman modal usaha tanpa agunan dengan proses online yang mudah dan cepat.

Tapi tidak hanya itu, Kebersamaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan bank komersial juga merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk simbiosis mutualisme dalam ekonomi. Kebersamaan tersebut bukan saja bermanfaat bagi keduanya, tetapi juga bagi masyarakat dan pemerintah.

Masyarakat menikmati ketersediaan lapangan kerja dan pemerintah menikmati kinerja ekonomi berupa naiknya Pendapatan Domestik Bruto (PDB), yang menyumbang lebih dari separuh PDB Indonesia. Namun demikian, kerja sama tersebut tetap perlu memegang prinsip kehati-hatian untuk memastikan terwujudnya manfaat bagi kedua pihak.

Kemudian Sayangnya, beberapa jenis pinjaman bank biasanya membutuhkan waktu 2-3 bulan untuk mendapatkan persetujuan. Tanpa modal yang cukup, UKM berada dalam posisi berbahaya. Salah satu nilai jual P2P adalah proses aplikasi yang sederhana dan cepat, biasanya berbasis online.Jika sebuah bisnis memang sudah dinilai layak, maka proses pencairan dana tidak akan berlangsung lama.

Sebagian besar kegiatan P2P disediakan oleh perusahaan fintech yang akan membuat Anda dapat dengan mudah membuka situs web perusahaan P2P Lending, mendaftar dan mendaftar untuk sebuah akun, dan melengkapi aplikasi untuk pinjaman UKM dalam waktu 10 menit.

Dalam hal ini, dapat dilihat bahwa sebuah UKM turut berpacu dengan waktu terkait kebutuhan modal yang dibutuhkan guna pengembangan bisnis. Dengan begitu masyarakat yang ingin berwirausaha akan lebih mudah mendapatkan modal yang pada akhirnya pertumbuhan UMKM akan semakin meningkat, dan perekonomian negarapun diharapkan akan terus membaik.

** Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Manajemen IPB 2018

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!