Anugerah Terindah (Cerpen)

0

 cerpen-safrinaPagi sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB ,ia belum lagi keluar dari kamar mandinya.Sudah berulang kali aku berteriak memanggilnya agar ia cepat mandi dan berangkat ke sekolah. Hampir setiap hari  aku dan suamiku berganti mengabsennya dan memarahinya karena kesalahan yang sama terlambat bangun tidur dan berlama-lama di kamar mandi.

Sejak dari awal aku dan suamiku menanamkan disiplin padanya tapi disiplin itu tak pernah tertanam pada dirinya. Entah apa sebabnya. Aku dan suamiku seakan kehilangan akal untuk menghadapinya.

Terkadang aku merasa kasihan padanya, omelan demi omelan yang kami tujukan padanya pasti membuatnya tak nyaman. Habis  mau bagaimana lagi? semua cara sudah aku lakukan mulai dari cara merayu dengan lemah lembut sampai nada suara paling tinggi entah berapa oktaf jumlahnya. Terkadang aku hilang kendali sebuah cubitan pun sampai diperutnya. Walaupun pada akhirnya aku menyesalinya. Tetap saja ia tak mengindahkan pesan-pesanku. semua nasihat kami dianggapnya bagai cerita suram yang ia biarkan berlalu begitu saja tanpa harus menggingatnya kembali.

Hampir tak terlihat oleh ku kelembutannya mulai dari tingkah laku maupun tutur katanya. Kata-kata kasar sering melintas dipendengaranku ketika ia bermain dengan teman-temannya. Entah dari mana kata-kata itu ia dapatkan.Tak jarang aku menasihatinya agar ia bersikap lemah lembut dan mengingatkannya bahwa ia seorang perempuan.

Sebentar lagi ia akan menyelesaikan pendidikannya di tingkat sekolah dasar. Aku ingin ia melanjutkan pendidikannya di pesantren. Harapanku begitu besar pada pemondokan itu. Aku berharap ia kelak menjadi anak yang saleh, mandiri, berguna bagi agamanya dan bangsa ini.  Aku rasa keinginanku bukanlah sesuatu yang berlebihan. Aku yakin semua orang tua pasti menginginkan hal yang sama denganku.

Hanya menunggu satu bulan lagi, ajaran baru akan tiba. Di sela-sela kesibukanku di dapur, ia mencoba mengutarakan keinginannya. Teman-temanku Dinda, Etsy, Ulan,Amel dan masih banyak lagi nama yang ia sebutkan, aku tak ingat lagi. Mereka akan mendaftar ke SMP, sebagian lagi akan mendaftar ke MTsN lanjutnya. Dengan nada ragu ia menanyakan padaku, bolehkah saya ikut mendaftar ke SMP seperti mereka?  Mengapa mereka boleh sekolah di SMP atau MTsN ? Mengapa saya tidak? Bukankah MTsN  juga banyak mempelajari ilmu agama? Lanjutnya. Aku tahu keinginannya,aku tahu harapan-harapannya, dan aku juga tahu kesenangan-kesenangannya. Hati kecilku berkata, maafkan aku anakku.  Aku harus mengubur semua itu. Mungkin aku terlalu egois,terlalu kejam.

Aku yakin semua pendapatku, caraku tentang mendidik anak bertentangan dengan pendapat para ahli dan Komnas perlindungan anak. Aku sadar akan hal itu.Tapi berapa banyak anak-anak di luar sana yang bebas berekspresi, bebas mengungkapkan keinginannya kepada kedua orang tua, mereka di manja ,mereka tumbuh dengan pribadi yang keras, mereka menuntut semua haknya kepada orang tuanya dan  akhirnya membuat orang tua mereka kecewa bahkan lebih buruk lagi mereka tak tahu cara berterima kasih, mereka tak tahu cara menyenangkan kedua orang tua mereka, mereka lupa mendoakannya. Aku tak ingin anakku tumbuh dengan pribadi seperti itu.

Dengan tenang aku berusaha membuat ia mengerti”Zila maukah mama tunjukkan jalan ke surga?”? tanya ku.”Mau Ma”,jawabnya. “Kalau mau dengarkan kata-kata Mama,sayang….Kamu anak Mama yang paling besar semua harapan dan tumpuan kami ada padamu anakku. Mama ingin kamu menjadi anak yang taat kepada Allah swt dan sayang kepada kedua orang tua”.

Kami akan tunjukan padamu jalan ke surga anakku, jika kelak kau menjadi pemimpin jadilah pemimpin dengan pondasi iman yang kuat dan berakhlak, bersikap jujurlah dan adil pada sesama. agar hidupmu selamat di dunia dan di akhirat.Maukah kamu mendoakan kami, jika kelak kami meninggalkan dunia ini? Air mata mengalir di pipinya yang mungil, bibirnya bergetar, dengan suara parau. Ia berkata”,mau Ma.Aku menyanyangimu anakku”kudekap ia dalam pelukanku.

****

Satu minggu sudah ia berada dipemondokan itu, dengan rutunitas yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Jam 04.00 Subuh ia harus bangun ada mudabir dan hustazah yang membangunkan mereka, mandi lalu bersiap-siap berangkat ke masjid shalat subuh berjamaah. Setelah itu sarapan pagi lalu berangkat ke sekolah. Pukul 12.30 Wib ia sudah berada di masjid kembali shalat juhur berjamaah, setelah itu makan siang lalu kembali lagi melanjutkan pelajaran. Pukul 15.30 Wib kembali ke masjid shalat Ashar berjamaah setelah itu kegiatan ekstrakulikurer.Pukul 18.00 makan malam,setelah itu,shalat magrib berjamaah dilanjutkan shalat isa,lalu kembali ke asrama untuk belajar hingga pukul 22.00 Wib,baru boleh beristirahat.  Ada sedikit kekhawatiranku.aku takut ia tak sanggup menjalani itu semua.

Wajahnya lesu, ia menangis ada kerinduan pada tatapan matanya, saat kami datang menjenguknya. Aku menghiburnya dengan mengatakan bahwa pemondokan ini tidak jauh, kapan saja kami bisa datang jika ia inginkan. Tangisnya pun kian pecah, ketika ku katakan bahwa tempat inilah yang terbaik baginya. Rasa kekhawatiranku pun menjadi-jadi. Aku takut, amat takut dibuatnya. Sore itu juga kami tinggalkan dia dalam suasana  yang sedih.

Dalam setiap shalat  kami selalu berdoa agar ia diberikan petunjuk dan hidayah oleh Allah Swt dan diberikan ketetapan hati untuk menuntut ilmu di sana, kerena sebelumnya aku tak pernah berpikir atau bermimpi untuk menyekolahkan nya di tempat lain.

Satu bulan penuh sudah ia berada di sana,wajahnya tak murung lagi,sudah tak ada air mata lagi mungkin ia mulai terbiasa.”Kamu senang berada di sini nak? “tanyaku.”Senang Ma”,jawabnya.  Alhamdulillah… rasa syukur yang tak terhingga itulah jawaban yang kuharapkan darinya. Terima kasih ya Allah anugrah terindah darimu, gadis kecil berjilbab dengan senyum merekah dibibirnya.

Setiap waktu aku mendoakannya dan berharap ridha illahi pada jalan yang telah kami tempuh.

===============================================================

safrinaOleh: Syafrina

(Penulis merupakan cerpenis muda)

Komentar Anda
SHARE