Akademisi di Takengon gelar Penelitian dan Seminar Antisipasi Paham Radikalisme

TAKENGON: Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh bekerjasama dengan mahasiswa STAIN Gajah Putih gelar Seminar Mengantisipasi Paham Radikalisme Terhadap Generasi Muda di Aceh. Minggu, (15/3/2018) kegiatan ini berlangsung di aula SMAN 15 Takengon, Aceh Tengah.

Sebelumnya, berdasarkan Laporan Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2011 tentang radikalisme, telah terjadi peningkatan paham radikalisme di lima kampus besar di Indonesia, diantaranya UGM, UI, IPB, UNDIP dan UNAIR. Hasil penelitian LIPI pada tahun 2016, juga membuktikan masuknya pengaruh radikalisme ke kampus melalui penyusupan organisasi kemahasiswaan tingkat perguruan tinggi.

Dengan data yang dimiliki LIPI, para akademisi FISIP Unsyiah, tertarik melakukan penelitian di tiga kampus di Aceh, yakni STAIN Gajah Putih Takengon, Unimal Lhokseumawe dan Unsyiah Banda Aceh.

“Secara khusus, belum ada penelitian tentang itu, sehingga belum bisa menjawab terkait penyebaran paham radikalisme, maka dengan ini kita gelar seminar sekaligus penelitian, tentang isu ini,” kata Peneliti Paham Radikalisme Aceh, Doktor Effendi Hasan, dalam persentasinya. Pihak kampus sendiri saat ini dintruksikan untuk melawan radikalisme.

“Intruksi yang dimaksud seperti Intruksi Presiden melalui Menteri ristek Dikti, bahwa kampus harus bebas dari gerakan radikalisme, berikutnya deklarasi seluruh pimpinan kampus untuk melawan gerakan radikalisme, karena kampus merupakan penyangga utama nasionalisme dalam bernegara,” jelas Effendi.

Kampus diharapkan peredam paham radikalisme, dilain pihak kampus menjadi target paham radikalisme “Karena faktor mahasiswa menjadi agent of change, mereka selalu menyuarakan aspirasi masyatakat, baik soal ketidakadilan ekonomi, kondisi sosial yang tidak menentu, penegakan hukum yang lemah serta korupsi yang merajalela,” ujar Effendi.

Peran tersebut menjadikan mahasiswa sebagai garda terdepan untuk menjawab persoalan sosial dan perubahan sosial, sehingga mereka menjadi daya tarik bagi kelompok tertentu, kemudian menjadi sasaran dari para pihak yang merongrong keberadaan NKRI.

Untuk menangkal paham Radikalisme di kampus, dibutuhkan pendalaman nilai-nilai agama.”Matakuliah deradikalisasi atau kurikulum terkait itu, agar mahasiswa mengetahui bagaimana bentuk gerakan radikal dan mereka menjadi target utama,” kata Effendi.

Selain itu, jelas Effendi pemahaman Pancasila dan UU 1945 perlu diterapkan kembali melalui program Penataran Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) bagi mahasiswa, terutama mahasiswa baru. Penguatan nilai-nilai nasionalisme juga dipandang perlu untuk menjaga kebhinekaan dalam bingkai NKRI. (IWB)

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!