​WDC Banda Aceh  Seminar Kepemimpinan Perempuan

0

BANDA ACEH:Women`s Development Center (WDC) Kota Banda Aceh mengadakan Seminar Kepemimpinan Perempuan di Rumoh PMI, Rabu (1/2/2017). Acara ini mengusung tema  “Memperkuat Kontribusi Perempuan dalam Agenda Pembangunan Berkeadilan di Aceh”.

Dalam seminar tersebut WDC Banda Aceh menghadirkan 4 narasumber, yaitu Prof Dr Syahrizal Abbas (Kepala Dinas Syariat Islam Aceh), Ustaz Masrul Aidi (Pimpinan Dayah Babul Maghfirah Cot Keueung), Ustaz Ahmad Rizal Lc MA ( Imum Chik Mesjid Lueng Bata) dan Khairani Arifin SH MH (Akademisi Unsyiah).

Plt Walikota Banda Aceh, Ir Hasanuddin Msi yang diwakili kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dr Media Yulizar MPH mengapresiasi WDC Banda Aceh menyelenggarakan acara tersebut, karena Pemko Banda Aceh sangat mendukung terhadap berbagai upaya yang dilakukan dalam meningkatkan kapasitas bagi perempuan.

“Seperti kita ketahui, Banda Aceh merupakan salah satu kota ramah gender dan dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi kesamaan hak dan kesempatan bagi perempuan dan laki-laki. Banda Aceh berkomitmen memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat kota untuk menjalankan kehidupan sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, baik dalam mengecap pendidikan, memberikan pendapat, serta berkarya dan berkreativitas dalam berbagai bidang,” ujarnya.

Keterlibatan perempuan, lanjutnya, memberikan perspektif baru dalam memandang sebuah permasalahan  sehingga menambah alternatif penyelesaian. Kolaborasi antara pemikiran kaum perempuan dan laki-laki, telah memungkinkan Banda Aceh bangkit menjadi kota yang layak bagi semua, baik bagi laki-laki, perempuan, anak-anak, orang tua, maupun orang dengan kebutuhan khusus.

Ia berharap keterlibatan perempuan dalam pembangunan bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi harus menyegerakan diri untuk mengejar ketinggalan dan memperbaiki kualitas kepemimpinan di semua level ke arah yang lebih baik sebagai bagian dari ibadah.

“hendaknya apapun yang kita lakukan selalu merujuk pada nilai-nilai keislaman yang kita yakini sebagai panduan utama bagi kita di dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini,” harap Hasanuddin.

Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Syahrizal Abbas mengatakan Tradisi adat Aceh tempo dulu sangat terbuka dan sangat memberikan ruang kedudukan yang sama bagi perempuan. Kaum hawa punya peranan aktif dalam segala tatanan sendi kehidupan. Terbukti dulu pernah ada kepemimpinan dipegang oleh perempuan selama 4 kali berturut-turut, bahkan pimpinan perang juga dari sosok perempuan seperi Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, dan lainnya.

“Peran perempuan dalam sejarah Aceh tersebut tidak bertentangan dengan Alquran dan Sunnah, karena saat itu pemerintahan Aceh berdasarkan Islam yang didukung oleh peranan ulama besar dalam sejarah Aceh seperti Syeh Abdurauf Assingkili,” ungkap Syahrizal. 

Namun, Lanjutnya, dalam perjalanan sejarah Aceh hingga saat ini terjadi distorsi-distorsi atau pemenggalan. hal tersebut dipengaruhi oleh peran kolonialisme yang berusaha menjauhkan orang Aceh dari ajaran agama.

“Kolonialisme bukan hanya merenggut kekuasaan dan mengekploitasi sumber daya alam kita, tapi juga mengacaukan pola pikir dan menjauhkan orang-orang Aceh dari ajaran Islam,” ujar Syahrizal Abbas.

Ia melanjutkan kolonialisme juga berusaha menjauhkan orang-orang Aceh dari sejarah dan menanamkan pemahaman-pemahaman yang dapat memecah belah dan menjauhkan orang aceh dari Islam.

“Makanya saat kita mau menerapkan syariat islam banyak yang menentang karena isme-isme kolonial itu telah menancap dalam kepala sebagian masyarakat kita, karena hukum di Indonesia sekarang masih mengadopsi hukum kolonialisme. Inilah dampak dari kolonialisme,” imbuhnya. (REL)

Komentar Anda
SHARE