​Peringati Hari Pers Nasional Ke-71 Di Tugu Radio Rimba Raya Berjalan Hikmat

0

REDELONG : Peringatan upacara Hari Pers Nasional (HPN) ke 71 yang dipusatkan di lokasi tugu perjuangan Radio Rimba Raya, Kampung Rime Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kamis (9/2) berjalan hikmat.
Turut hadir dalam kegiatan yang digagsi oleh Plt Kadis Kominfo Kabupaten Bener Meriah Irmasyah, SSTP itu Plt Bupati Bener Meriah Drs. Hasanuddin Darjo, unsur forkopimda, para pejabat perangkat daerah, tokoh sejarah Radio Rimba Raya, Seniman Gayo Fikar W,Eda, TNI dan Polri, Satpol PP, Ketua PWI Bener Meriah Khalisuddin, Ketua PWI Bireuen Suryadi, para wartawan media cetak dan elektronik Bener Meriah, Aceh Tengah dan Bireuen, anggota Pramuka, para pelajar SD, SMP dan SMA, Mahasiswa KKN dari Universitas Siyah Kuala Banda Aceh, serta masyarakat setempat.

Plt Bupati Kabupaten Bener Meriah Drs. Hasanuddin Darjo, MM selaku Inspektur Upacara HPN ke 71dalam amanatnya menyampaikan, hari pers nasional menjadi ajang silaturahmi dan penyatu pemikiran untuk kemajuan pers khususnya dan bangsa Indonesia umumnya.

 Kegiatan ini merupakan agenda tahunan terbesar dan paling bergensi bagi komponen pers Indonesia. Dunia pers memang terus bertranformasi, terutama setelah internet menjamah peradaban manuasia. Karya jurnalistik tidak hanya bisa dibaca lewat surat kabar atau media cetak lainnya, tapi juga dibaca lewat berbagai perangkat elektronik canggih yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat dewasa ini.

Darjo menambahkan, dunia jurnalistik di Indonesia juga sempat mengalami pasang surut, tentu sejarah telah mencatat saat rezim orde baru mengatur sirkulasi pemberitaan dan membrendel karya jurnalistik yang “Bandel” saat itu, kritik dibungkam dan masyarakat lebih banyak diam. Setelah reformasi kata Hasanuddin Darjo, angin segar berhembus di dunia jurnalistik, insan pers bebas berkarya dan mengeluarkan kritiknya tentang berbagai hal, termasuk setiap rezim pemerintah yang berkuasa. Tentu harapannya, dunia pers di Indonesia semakin baik menyajikan fakta dan menyebarkan informasi di tengah kehidupan berdemokrasi yang makin matang.

“Bicara mengenai penyebaran informasi, Radio Rimba Raya tentu mempunyai peran yang penting disitu, terutama peran yang sangat besar terhadap kelangsungan Pemerintah Republik Indonesia. Belanda pada Tanggal 19 Desember 1948 telah menguasai Ibu Kota Pemerintah Indonesia dan mengumumkan lewat Radio Hilversum (milik Belanda-red) kepada seluruh dunia, bahwa Negara Indonesia sudah tidak ada lagi, tapi dengan suara yang lantang dari dataran tinggi Gayo, Radio Rimba Raya membatalkan berita tersebut dan mengatakan bahwa Indonesia masaih ada,”cerita Plt Bupati Bener Meriah itu.

Lanjutnya lagi, siaran itu dapat ditangkap jelas oleh sejumlah radio di semenanjung melayu (Malaysia-red), Singapura, Saigon, Manila, bahkan hingga Australia dan Eropa. Akhirnya, akibat berita yang disuarakan itu, banyak Negara dunia dengan serta merta mengakui kemerdekaan Indonesia. Dengan adanya berita yang disiarkan Radio Rimba Raya merupakan pukulan telak pemerintah Belanda. 

“Karena itulah tugu Radio Rimba Raya ini merupakan tugu monumen bersejarah yang harus kita kenang dan kita hargai serta kita bangun untuk kita jadikan sebagai warisan sejarah kepada generasi saat ini dan generasi yang akan datang,”pinta Darjo.

Katanya lagi, karena itu pula bisa dianggap bahwa tugu Radio Rimba Raya merupakan symbol pers, namun, keberadaan tugu Radio Rimba Raya sampai saat sekarang belum mendapat legimitasi dari pemerintah pusat. 

“Oleh karena itu, kita sebagai insan pers di Kabupaten Bener Meriah, harus mempromosikan tugu Radio Rimba Raya ini agar mendapat pengakuan secara nasional,”demikian Plt Bupati Kabupaten Bener Meriah Drs. Hasanuddin Darjo, MM, sembari menambahkan insan pers tetap dipercaya oleh publik sebagai pilar tempat demokrasi kita dengan menghadirkan informasi yang jujur, akurat, objektif, dan selalu memberikan tempat kepada suara, pikiran kepada gagasan dari masyarakat.

Selain digelarnya upacara, kegiatan tersebut juga dibubuhi dengan beberpaka agenda, seperti pembacaan sejarah Radio perjuangan Rimba Raya yang disampaikan oleh tokoh sejarah Dr. Mahmud Ibrahim, MA, dan penampilan drama teater dari siswa/siswi SMA Unggul Binaan Bener Meriah yang berklaborasi dengan seniman Gayo Fikar W,Eda. Drama itu menceritakan sejarah disuarakannya kata-kata yang menyatakan Indonesia masih ada, dengan beberapa bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Arab, Inggris, India, Urdu, Pakistan, cina, Belanda.

Klaborasi antara teater dan puisi yang di persembahkan oleh pelajar SMA Unggul Binaan dan senima Gayo Fikar W, Eda tersebut mencuri perhatian seluruh undangan. Plt Bupati Bener Meriah Drs. Hasanuddin Darjo, MM terlihat terharu mata ketika saat-saat adegan akan di siarkannya pernyataan bahwa Indonesia masih ada oleh para pejuang Indonesia yang di perankan oleh para pelajar SMA Unggul Binaan tersebut, ternyata kesedihan yang dirasakan oleh Plt Bupati Bener Meriah saat menyaksikan drama tersebut turut juga dirasakan seluruh undangan, tampak dari raut wajah mereka kesedihan dan keharuan.(REL)

Komentar Anda
SHARE