​Mogoknya Staf RSU Muyang Kute dan Tanyaku pada Pemerintah Bener Meriah

0
Muhammadinsyah

Laporan: Muhammadinsyah (Ketua HPBM Banda Aceh)

Jum’at 3 Maret 2017, pagi yang biasanya menyejukkan di Bener Meriah seketika panas akibat dari tersiarnya kabar Staf dan dokter RSU Muyang Kute Bener Meriah mogok kerja, informasi ini dengan cepat tersebar melalui semua  media sosial.

Tertarik untuk memastikan kebenaran berita ini, dengan berat hati saya langkahkan kaki menuju ke lokasi RSU tersebut, sesampainya disana pertanyaan saya terjawab dengan jawaban yang sangat tidak diinginkan yaitu berita tersebut adalah benar adanya, RSU yang menjadi satu satunya pilihan tempat untuk berobat bagi warga Bener Meriah ini telah sepi dari perawat dan staf lainya.

Lebih mirisnya lagi spanduk berukuran 4×1 M bertuliskan pengumuman bahwa RSU tersebut tidak melayani pasien terpampang didepan gerbang. banyak dari Keluarga pasien yang berhamburan keluar dari RSU tersebut.

Apa yang terjadi dengan RSU Muyang Kute ? Rasa penasaran membawa saya memberanikan diri untuk bertanya pada salah satu keluarga pasien yang telah membawa keluarganya keluar dari RSU tersebut.

” Anaknya kenapa dibawa keluar pak ? Tanyaku.” Katanya obat obatan tidak ada, perawat juga tidak ada yang datang ” jawabnya.

Sontak saya kaget dengan jawaban bapak itu, bukankah RSU Muyang Kute dikelola langsung oleh pemeringah daerah, pendanaanya juga dari APBD daerah, lalu bagaimana bisa kekurangan obat obatan.

Semakin penasaran, saya memasuki sebuah warung yang berada disekitar RSU tersebut, disana saya bertemu dengan seseorang yang memakai pakayan perawat lengkap meski ditutupi dengan jaket, akibat dari rasa penasaran yang kian menggebu, saya memberanikan diri untuk bertanya,

” Abang perawat disini ya ” tanyaku.

” Iya ” jawabnya singkat.

” Kenapa mogok kerja bang ? Bukankah perawat sudah bersumpah setia untuk melayani ?” Tambahku.

Dengan raut wajah penuh emosi beliau menjawab.” Beberapa bulan ini kami tidak pernah lagi menerima gaji dari pemerintah daerah, Bahkan gaji dari BPJS pun tidak lagi kami terima, ditambah lagi Insentif lain seperti jaga malam dan lain lain juga tidak lagi kami terima”. Jawabnya.

” Memangnya pihak direktur rumah sakit, tidak mengetahui hal ini bang?” Tanyaku lagi.

” Kami sudah pernah bermusyawarah terkait hal ini, tapi tidak ada solusi konkrit dari mereka. Kami juga manusia dan punya hak untuk mempertanyakan apa yang sudah jadi hak kami.” Jawabnya.

Semakin penasaran, tiba-tiba PLT Bupati Bener Meriah dan jajaranya seketika datang ke lokasi RSU, saat itu puluhan wartawan juga telah bersiaga dengan segala perlengkapanya untuk menulis berita terkait hal ini. Kemudian, merekapun melakukan rapat tertutup dengan pihak RSU Muyang Kute di aula Rumah sakit tersebut.

Tidak ada satu pertanyaan saya pun yang terjawab dengan konkrit. Kenapa RSU Muyang Kute bisa kekurangan obat obatan ? Kenapa gaji tenaga Honorer dan staf medis lainya tidak kunjung diberikan ? Ini adalah pertanyaan seluruh masyarakat Bener Meriah, bagaimana pemerintah daerah bisa sampai kecolongan seperti ini. Apalagi ini terkait dengan kesehatan masyarakat bahkan berurusan dengan penyakit yang seketika dapat merenggut nyawa manusia.

Menarik untuk ditunggu, akan seperti apa masalah ini diselesaikan oleh pemerintah daerah. Harapan kami, sebagai masyarakat, sekiranya segeralah permasalahan RSU ini di selesaikan, jangan sampai berlarut-larut dalam ketidakjelasan.ini adalah bukti kelalaian kita bersama oleh  Karena itu jika dibiarkan bisa saja masyarakat akan turun tangan untuk ikut serta mengusut tuntas masalah ini agar dapat cepat diselesaikan. **

Komentar Anda
SHARE